Museum Sumpah Pemuda Simpan Buku Kartini Edisi 1911 hingga Gramofon 1927

Penulis: Alfian Batubara  •  Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:09:01 WIB
Museum Sumpah Pemuda menyimpan buku Door Duisternis tot Licht karya Kartini edisi pertama tahun 1911 yang masih memuat tulisan tangan namanya.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Museum Sumpah Pemuda di Jakarta Pusat menyimpan buku Door Duisternis tot Licht karya Kartini edisi pertama terbitan 1911, lengkap dengan tulisan tangan nama Kartini. Koleksi langka ini dapat dilihat langsung bersama pemandu di Ruang Koleksi Lantai 2, dengan syarat pengunjung minimal berusia SMA. Selain buku, tersimpan pula gramofon yang disebut dipakai memutar pertama kali lagu Indonesia Raya.

Koordinator Museum Sumpah Pemuda, Fathul Futuh Tamam, menjelaskan bahwa buku koleksi tersebut merupakan kumpulan surat Kartini yang menggambarkan kehidupan dan pemikirannya. Kondisi fisiknya masih terbilang bagus dengan sampul asli berwarna cokelat.

Buku Kartini Edisi Pertama: 583 Halaman Berbahasa Belanda

Buku berjudul asli Door Duisternis tot Licht ini dikenal di Indonesia sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang. Edisi yang disimpan museum adalah cetakan pertama tahun 1911, bukan sekadar salinan atau cetak ulang.

Yang membuatnya istimewa, di dalamnya masih ada tulisan tangan nama Kartini sendiri. Buku setebal 583 halaman ini juga dilengkapi foto Kartini, dan seluruh isinya menggunakan bahasa Belanda.

"Museum Sumpah Pemuda punya edisi pertama terbitan buku Kartini yang diterbitkan tahun 1911, di mana dalam buku itu masih ada tulisan tangan nama Kartini," kata Fathul saat dijumpai detikTravel di Museum Sumpah Pemuda beberapa waktu lalu.

Bagi traveler yang selama ini hanya mengenal judulnya lewat pelajaran sekolah, melihat wujud fisik edisi pertama secara langsung jelas memberi pengalaman berbeda.

Gramofon 1927 dan Kaitannya dengan Lagu Indonesia Raya

Selain buku, museum menyimpan gramofon atau alat pemutar piringan hitam yang didatangkan ke Indonesia pada 1927. Menurut Fathul, gramofon ini dibuat di Jerman, sementara isi pairnya dibuat di Swiss.

Berdasarkan penelusuran pihak keluarga pemilik sebelumnya, koleksi tersebut disebut sebagai satu-satunya di Indonesia dan ASEAN. Gramofon ini juga berkaitan erat dengan sejarah rekaman lagu Indonesia Raya.

"Ini gramofon alat putar piringan hitam yang dipakai untuk memutar pertama kali lagu Indonesia Raya setelah direkam dalam kepingan piringan hitam," tambahnya.

Mesin Ketik hingga 2.973 Foto Era 1930

Ruang koleksi juga memuat dua mesin ketik lawas, yakni merek Remington buatan 1874 dan Continental buatan Inggris tahun 1842. Keduanya memberi gambaran perangkat yang pernah digunakan pada masa lampau.

Koleksi lain yang tersimpan rapi adalah sekitar 2.973 foto dari tahun 1930 serta sejumlah kaset lawas. Fathul menyebut kondisi foto-foto tersebut masih sangat luar biasa.

Aturan Masuk Ruang Koleksi Lantai 2

Seluruh benda bersejarah ini dapat dilihat langsung bersama pemandu di Ruang Koleksi Lantai 2 Museum Sumpah Pemuda. Ada ketentuan yang perlu diperhatikan: pengunjung yang diperbolehkan masuk ke ruang koleksi minimal berusia SMA.

Untuk jam operasional dan tiket masuk, informasi terkini dapat dikonfirmasi via pihak museum atau dinas pariwisata setempat.

Tips Berkunjung

  • Datang bersama pemandu agar bisa mendapat penjelasan langsung soal tiap koleksi.
  • Perhatikan syarat usia minimal SMA sebelum masuk ruang koleksi lantai 2.
  • Siapkan waktu cukup untuk menyusuri seluruh ruang pameran, bukan hanya ruang koleksi.

Museum Sumpah Pemuda menawarkan pengalaman membuka lembaran cerita masa lalu secara langsung. Bukan cuma mengenal tokoh dan peristiwa sejarah, traveler dapat melihat benda-benda bersejarah pada zamannya. Alokasikan sekitar satu hingga dua jam untuk menuntaskan kunjungan.

Reporter: Alfian Batubara
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top