KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Di sela kunjungan resminya ke New Delhi, Senin (25/5), Rubio mengatakan pihaknya tidak akan mudah percaya pada kabar bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang AS-Israel di Iran sudah di depan mata. "Kami pikir mungkin ada beberapa berita tadi malam, mungkin hari ini. Saya tidak akan terlalu mempercayainya," ujarnya kepada wartawan, merujuk pada spekulasi yang beredar mengenai potensi gencatan senjata permanen.
Blokade Laut Jadi Alat Tekan Utama Washington
Pernyataan Rubio mempertegas sikap Gedung Putih yang tidak mau melonggarkan tekanan sebelum Iran memenuhi tuntutan inti. Sehari sebelumnya, Presiden Trump menulis di platform Truth Social bahwa blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran akan "tetap berlaku sepenuhnya sampai kesepakatan tercapai, disahkan, dan ditandatangani." Trump menambahkan, "Kedua belah pihak harus meluangkan waktu dan melakukannya dengan benar."
Rubio menjelaskan bahwa Washington telah menyodorkan proposal yang dinilainya cukup solid, terutama terkait pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama ini diblokade Iran. "Kami memiliki apa yang menurut saya merupakan hal yang cukup solid di atas meja dalam hal kemampuan mereka untuk membuka selat," katanya. Namun ia mengancam, "Kita akan mencapai kesepakatan yang baik, atau kita harus menyelesaikannya dengan cara lain. Kami lebih memilih untuk mencapai kesepakatan yang baik."
Iran Akui Kemajuan Negosiasi, tapi Tak Jamin Penandatanganan Segera
Di Teheran, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengakui bahwa kedua pihak telah mencapai kesimpulan pada sebagian besar topik diskusi. Namun ia memperingatkan bahwa hal itu "tidak berarti penandatanganan perjanjian akan segera terjadi." Baghaei juga menekankan bahwa sejauh ini Iran dan AS belum membahas isu nuklir—fokus negosiasi saat ini hanyalah mengakhiri perang.
Baghaei meragukan komitmen Washington. "Tidak ada jaminan" AS akan menghormati komitmennya dalam kesepakatan potensial, katanya, seraya menegaskan Teheran tidak peduli dengan "ancaman" dari pihak lawan.
Garis Besar Kesepakatan: Buang Uranium, Buka Selat, Cabut Blokade
Seorang pejabat senior pemerintahan Trump yang berbicara dengan syarat anonim kepada Reuters menguraikan kerangka kesepakatan yang tengah dirundingkan. Menurut pejabat tersebut, Iran telah setuju "pada prinsipnya" untuk membuang uranium yang diperkaya tinggi dan membuka Selat Hormuz. Sebagai imbalannya, AS akan mencabut blokade angkatan laut.
Pejabat yang sama mengklaim bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei telah mendukung kerangka kesepakatan secara umum. Namun tidak ada konfirmasi langsung dari Iran mengenai klaim tersebut. Washington membayangkan proses bertahap: pembukaan selat dan pencabutan blokade dilakukan lebih dulu, sementara negosiasi detail langkah-langkah nuklir akan memakan waktu lebih lama. "Ini masalah bagaimana caranya," kata pejabat itu, membantah anggapan bahwa Iran belum menerima pembuangan uranium yang telah ditimbunnya.
Pakistan dan Tiongkok Aktif Mediasi
Di tengah ketegangan yang masih tinggi, upaya mediasi terus digencarkan. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Panglima Militer Field Marshal Asim Munir berada di Beijing pada Senin (25/5) untuk melakukan pembicaraan dengan para pemimpin Tiongkok. Tiongkok menyatakan akan bekerja sama dengan Pakistan untuk "memberikan kontribusi positif bagi pemulihan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah secepatnya."
Marsekal Munir sebelumnya berada di Tehran pekan lalu bersama Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi sebagai bagian dari upaya mediasi. Kehadiran dua kekuatan regional ini menunjukkan bahwa jalan diplomasi masih terbuka, meskipun ancaman "cara lain" dari Rubio terus menggantung.