KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Bayangkan tumpukan ponsel jadul yang mengumpulkan debu di laci meja Anda. Google Research dan University of California San Diego (UCSD) baru saja membuktikan bahwa benda itu bisa jadi pusat data mini. Mereka merakit 2.000 unit Google Pixel bekas menjadi server yang mampu menjalankan aplikasi untuk 100 kelas sekaligus.
Bukan Sekadar Tumpuk Ponsel, Ada Operasi Besar di Balik Layar
Proyek ini bukan sekadar menumpuk ponsel seperti eksperimen viral di Taiwan yang merangkai 64 ponsel untuk main Pokemon Go. Tim peneliti melakukan pembedahan total. Motherboard dari setiap Pixel dikeluarkan dari bodi aslinya, lalu ditata dalam kluster mandiri yang terdiri dari 25 hingga 50 unit.
Android pun dicopot dan diganti dengan Linux. Sistem operasi kustom ini menghilangkan fitur proteksi konsumen seperti "low-memory killer" yang sebenarnya justru kontraproduktif untuk lingkungan server. Semua komponen yang tidak diperlukan—layar, modul kamera, dan baterai—dibuang. Hanya motherboard yang tersisa untuk bekerja.
Performa Setara Server Profesional, Biaya Jauh Lebih Murah
Hasilnya mengejutkan. Menurut Google, performa kluster Pixel ini—dalam sebagian besar skenario—setara atau bahkan lebih baik dari server rak profesional seperti Asus RS720A yang lazim dipakai di pusat data perusahaan.
UCSD mengkonfirmasi bahwa 20 unit Pixel sudah cukup untuk mendukung satu kelas dengan lebih dari 75 mahasiswa. Dengan 2.000 unit, kampus bisa mendukung 100 kelas secara bersamaan. "Biaya pembelian ponsel dan waktu setup hanya sebagian kecil dari biaya normal untuk daya komputasi server yang sebanding," demikian klaim UCSD dalam studi mereka.
Solusi Kecil untuk Dua Masalah Besar: Biaya dan Sampah Elektronik
Proyek ini memang berskala kecil. Namun, potensinya besar untuk kampus-kampus di seluruh dunia yang kantongnya tipis. Google menilai bahwa mayoritas kebutuhan sekolah—mulai dari pengajaran, grading, hingga riset—masih "dalam kapasitas yang bisa dihosting oleh satu smartphone saja." UCSD berencana meluncurkan sistem ini secara resmi pada semester gugur 2026 dan akan mempelajari daya tahan komponen konsumen di lingkungan server yang lebih berat.
Di sisi lain, angka sampah elektronik global sangat mencengangkan. Setiap tahun, sekitar 62 juta ton e-waste masuk ke aliran sampah, dan hanya 22,3 persen yang didaur ulang dengan benar. Lebih parah lagi, diperkirakan 5,3 miliar ponsel dibuang setiap tahun. Artinya, UCSD perlu membuat 2,65 juta server farm serupa setiap tahun hanya untuk membersihkan sampah ponsel saja—sebuah angka yang mustahil.
Bukan Pengganti Pusat Data Raksasa, Tapi Angin Segar untuk Akademisi
Jangan bayangkan proyek ini akan menggantikan data center raksasa milik Google atau AWS. Pusat data modern bisa memproses ratusan gigabyte per detik, dan server AI membutuhkan daya serta sistem pendingin dengan konsumsi listrik setara puluhan ribu rumah. "Tidak ada kemungkinan sekelompok motherboard ponsel bekas bisa berdampak pada industri pusat data skala besar," tulis tim peneliti.
Namun, untuk kebutuhan bisnis kecil dan akademisi yang sering kelebihan bayar untuk kapasitas cloud yang tidak terpakai, pendekatan ini adalah solusi yang cerdas. Proyek ini juga menjadi pengingat bahwa sebelum membuang ponsel lama Anda ke tempat sampah, mungkin masih ada cara kreatif untuk memberinya kehidupan kedua.