PANGKALPINANG — Angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kota Pangkalpinang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah. Dari hasil pendataan terbaru, 221 anak usia sekolah dasar hingga menengah atas tercatat belum mengenyam pendidikan atau sudah berhenti di tengah jalan.
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdako Pangkalpinang, Agustu Efendi, menyampaikan data tersebut saat membuka Rapat Koordinasi dan Evaluasi Pendataan Anak Tidak Sekolah di Son Hotel Pangkalpinang, Kamis (9/7/2026).
Verifikasi 400 Anak: Siapa Saja yang Masuk Indikasi?
Selain 221 anak yang sudah masuk data ATS definitif, Pemkot Pangkalpinang tahun ini juga akan memverifikasi sekitar 400 anak lainnya yang terindikasi berisiko putus sekolah. Proses verifikasi ini bertujuan memastikan data riil di lapangan sebelum menentukan langkah intervensi.
“Kami perlu memastikan status mereka. Apakah benar-benar tidak sekolah, pindah ke luar kota, atau mungkin sudah bekerja,” ujar Agustu Efendi di hadapan para peserta rapat.
Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci
Penanganan ATS tidak bisa dilakukan sendiri oleh Dinas Pendidikan. Pemkot Pangkalpinang menggandeng Dinas Sosial, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta kelurahan dan RT/RW setempat untuk mendata dan menjangkau anak-anak yang terputus akses pendidikannya.
Pendekatan berbasis kewilayahan ini dianggap lebih efektif karena banyak anak ATS yang berasal dari keluarga kurang mampu atau tinggal di lokasi yang sulit dijangkau.
Mengapa Angka ATS Masih Tinggi di Pangkalpinang?
Beberapa faktor disebut menjadi penyebab anak-anak di Pangkalpinang tidak bersekolah. Mulai dari faktor ekonomi keluarga, kurangnya motivasi, hingga akses ke sekolah yang terbatas di beberapa titik. Pemkot berharap pendataan yang akurat bisa menjadi dasar untuk menyusun program afirmasi, seperti bantuan seragam, beasiswa, atau pendidikan nonformal.
Agustu menambahkan, rapat koordinasi ini menjadi ajang evaluasi agar data ATS tidak hanya menjadi angka di atas kertas, tetapi benar-benar ditindaklanjuti dengan aksi nyata.