KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Kehadiran Citra Nur Ramadhani di tengah forum kenegaraan itu menjadi salah satu momen yang menyita perhatian. Kepala Negara menceritakan kisah hidup Citra yang nyaris putus sekolah saat duduk di kelas 4 SD karena harus membantu ibunya berjualan kacang. Sang ayah telah meninggal dunia, sementara sang ibu merupakan penyandang disabilitas.
Melalui program Sekolah Rakyat Terintegrasi, Citra disebut Prabowo mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan tanpa harus meninggalkan keluarganya. "Citra dari Kabupaten Pangkajene, Sulawesi Selatan," ujar Presiden Prabowo saat memperkenalkan siswi tersebut di hadapan para pejabat dan anggota legislatif.
Prestasi Karate dan Pesan Tegas dari Kepala Negara
Prabowo tidak hanya menyoroti latar belakang ekonomi Citra. Ia juga mengapresiasi prestasi non-akademik anak tersebut. "Citra berhasil menjadi juara 2 karate tingkat kabupaten," ungkapnya di hadapan ribuan undangan.
Momen hangat terjadi ketika Prabowo melontarkan pertanyaan soal usia Citra. "Citra umurmu berapa?" tanya Prabowo. "10 tahun," jawab Citra singkat. Mendengar itu, Prabowo berkelakar, "Ya nanti 10 tahun lagi lah kau boleh pacaran," yang langsung disambut tawa hadirin.
Guyonan itu berlanjut dengan pesan yang lebih serius. Prabowo menambahkan, "Citra kau boleh pacaran setelah sabuk hitam. Jadi tidak ada yang berani main-main sama kau." Pernyataan ini kembali memicu gelak tawa di ruang sidang.
Program Sekolah Rakyat sebagai Jaring Pengaman Pendidikan
Pengenalan Citra dalam Sidang Tahunan MPR tahun ini dimanfaatkan pemerintah untuk menunjukkan implementasi nyata program Sekolah Rakyat. Inisiatif ini dirancang untuk menjangkau anak-anak dari keluarga miskin ekstrem agar tetap mendapatkan akses pendidikan formal.
Kisah Citra menjadi ilustrasi konkret bagaimana program tersebut bekerja: siswa tetap tinggal bersama keluarga, namun mendapatkan fasilitas pendidikan, pendampingan, dan pembinaan karakter secara terintegrasi. Pemerintah sebelumnya menyatakan target perluasan sekolah rakyat akan mencakup berbagai kabupaten/kota di Indonesia.
Prabowo menegaskan, sekolah rakyat memberi Citra kesempatan belajar tanpa meninggalkan keluarga untuk menghadapi perjuangan sendiri. Pola ini dinilai penting untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi tanpa memutus ikatan sosial anak dengan lingkungan asalnya.
Respons Publik dan Makna Simbolis di Sidang MPR
Momen interaksi antara presiden dan seorang siswi SD di tengah agenda kenegaraan yang sakral ini menjadi perbincangan hangat. Sebagian kalangan menilai hal ini menunjukkan sisi humanis pemimpin, sementara yang lain melihatnya sebagai strategi komunikasi publik untuk mendekatkan program pemerintah dengan rakyat.
Terlepas dari itu, kehadiran Citra di Gedung Parlemen memberikan wajah konkret dari data kemiskinan yang kerap dibahas dalam dokumen resmi. Ia bukan sekadar angka statistik, melainkan representasi anak-anak Indonesia yang menjadi sasaran utama program bantuan sosial pemerintah.
Sidang Tahunan MPR kali ini memang dihadiri sejumlah tamu spesial dari berbagai latar belakang. Namun, kisah perjuangan Citra bersama ibunya yang disabilitas menjadi salah satu narasi yang paling banyak disorot setelah acara usai.