PANGKALPINANG — Rencana pertemuan antara perwakilan petani sawit dan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung dijadwalkan pada Senin depan. Agenda utama dialog tersebut adalah mencari solusi atas anjloknya harga TBS sawit di tingkat petani yang sudah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
Informasi yang dihimpun, harga TBS di sejumlah titik di Bangka Belitung saat ini berada di kisaran yang sangat rendah. Kondisi ini membuat petani mengeluh karena biaya produksi, seperti pupuk dan upah panen, tidak sebanding dengan pendapatan yang mereka terima.
Para petani berharap ada kebijakan atau intervensi dari pemerintah daerah untuk menstabilkan harga. Mereka menginginkan harga TBS berada di level yang dapat memberikan keuntungan, setidaknya menutup modal produksi dan biaya hidup sehari-hari.
Meski angka pasti yang akan dibahas belum dirilis, petani mengaku sudah menyiapkan data perbandingan harga di tingkat pabrik dan harga yang mereka terima. Data ini akan menjadi bahan negosiasi dengan Gubernur dan jajaran dinas terkait.
Selain soal harga pokok, petani juga akan menyoroti mekanisme penetapan harga yang dinilai tidak transparan. Mereka menduga ada praktik yang merugikan petani di tingkat pedagang perantara atau pabrik pengolahan kelapa sawit.
“Kami minta ada kejelasan soal rumus harga. Jangan sampai petani terus dirugikan,” ujar salah satu koordinator petani yang akan hadir dalam pertemuan tersebut, Selasa (19/11/2024).
Pertemuan Senin depan diharapkan menghasilkan keputusan konkret, bukan sekadar janji. Petani mendesak adanya kebijakan harga pembelian TBS yang berpihak pada petani kecil.
Gubernur Babel sebelumnya telah menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi ini. Pemerintah provinsi berjanji akan mencari solusi jangka pendek dan panjang agar sektor sawit rakyat tetap berkelanjutan.
Hingga saat ini belum ada keputusan resmi mengenai pemberian subsidi harga atau bantuan langsung bagi petani sawit. Namun, opsi tersebut kemungkinan besar akan menjadi salah satu bahasan utama dalam pertemuan dengan Gubernur.
Para petani berharap ada tindakan nyata dari pemerintah daerah. Jika tidak segera diatasi, mereka khawatir banyak petani kecil akan beralih profesi atau meninggalkan lahan perkebunan sawit mereka.