KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Teknologi anyar ini mampu mentransformasi berbagai jenis limbah padat—mulai dari sampah rumah tangga, hasil landfill, limbah pasar tradisional dan modern, hingga sisa industri, perkebunan, pertanian, dan peternakan—menjadi sumber EBT bernilai kalor tinggi. Asiana Technologies mengklaim inovasi ini sudah teruji dan siap diimplementasikan di sejumlah daerah.
“Kami mengubah beban lingkungan menjadi energi yang bernilai ekonomi,” demikian pernyataan manajemen Asiana Technologies dalam siaran resmi, pekan ini.
Perusahaan telah menandatangani kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk mengelola Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Burangkeng dan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk TPA Sarimukti. Kedua lokasi ini menjadi proyek percontohan pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif skala daerah.
Kerja sama itu menunjukkan bahwa teknologi waste-to-fuel mulai dilirik pemerintah daerah sebagai solusi darurat sampah sekaligus bagian dari transisi energi nasional. TPA Sarimukti sendiri selama ini menjadi salah satu lokasi pembuangan utama bagi sampah dari Bandung Raya yang kerap kelebihan kapasitas.
Indonesia masih menghadapi dua persoalan struktural: produksi sampah nasional yang mencapai puluhan juta ton per tahun, dan impor bahan bakar minyak yang membebani neraca perdagangan. Teknologi yang dihadirkan Asiana Technologies menawarkan jalan tengah—sampah yang semula menjadi sumber emisi metana di TPA justru dikonversi menjadi energi terbarukan.
Nilai kalor di atas 3.500 Kkal/Kg yang dihasilkan setara dengan kualitas batu bara muda (lignit), sehingga bahan bakar alternatif ini bisa digunakan untuk industri manufaktur, pembangkit listrik, atau kebutuhan energi skala menengah lainnya.
Ke depan, Asiana Technologies menargetkan perluasan kerja sama dengan pemerintah daerah lain di Indonesia. Langkah ini sejalan dengan target pemerintah pusat yang mendorong porsi EBT dalam bauran energi nasional mencapai 23 persen pada 2025.