TANJUNGPANDAN — Kepala TPA Gunung Sadai Kabupaten Belitung, Riyandi Sulaiman, menyatakan penutupan timbunan sampah dengan tanah uruk ini merupakan langkah preventif utama. "Hingga saat ini, 90 persen timbunan sampah sudah kami uruk dengan tanah. Kondisinya saat ini tidak terbuka lagi, tetapi tertutup oleh tanah uruk guna meminimalkan risiko kebakaran akibat cuaca panas," ujarnya di Tanjungpandan, Sabtu.
DLH Belitung juga telah menyiapkan cadangan tanah (stockpile) di area TPA Gunung Sadai sebagai antisipasi cepat jika sewaktu-waktu muncul percikan api. Riyandi menjelaskan prosedur utama penanganan jika ditemukan indikasi api, yaitu melakukan penyemprotan air ke sumber api, kemudian langsung menimbunnya dengan tanah yang telah disiapkan.
"Jika ada percikan, penanganan pertama adalah mematikan sumber api dengan air, lalu segera ditutup dengan tanah. Dengan menutup pasokan oksigen, api kemungkinan besar akan langsung mati dan tidak meluas ke dalam gunungan sampah," kata Riyandi.
Pihaknya memastikan kesiapan sumber air di sekitar lokasi TPA Gunung Sadai agar selalu tersedia dan mudah diakses sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat. Langkah preventif ini diperkuat dengan menjalin koordinasi dan sinergi intensif bersama Pemadam Kebakaran (Damkar) BPBD Kabupaten Belitung.
"Kami terus berkoordinasi dengan tim Damkar Belitung untuk mengantisipasi segala kemungkinan, sehingga jika terjadi situasi yang membutuhkan penanganan skala besar, respons cepat dapat segera dilakukan," ujar Riyandi.
Langkah mitigasi ini diambil menyusul potensi kebakaran lahan dan tempat pembuangan sampah yang kerap meningkat selama musim kemarau di wilayah Kepulauan Bangka Belitung. Dengan penutupan timbunan dan kesiapan peralatan, DLH Belitung berharap risiko kebakaran di TPA Gunung Sadai dapat ditekan seminimal mungkin.