PANGKALPINANG — Dari total 142 unit koperasi yang terdaftar di Kepulauan Bangka Belitung, sebanyak 130 unit dinyatakan aktif dan sisanya tidak beroperasi. Serapan tenaga kerja dari koperasi aktif ini mencapai 11.218 orang, terdiri dari 6.289 laki-laki dan 4.289 perempuan.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Kepulauan Babel, Arie Primajaya, menyebutkan distribusi koperasi aktif tidak merata. Kota Pangkalpinang menjadi wilayah dengan jumlah koperasi terbanyak, yakni 63 unit. Disusul Kabupaten Bangka Tengah dengan 21 unit, Belitung Timur 18 unit, Bangka 15 unit, Bangka Selatan 7 unit, serta Belitung dan Bangka Barat masing-masing 3 unit.
"Alhamdulillah, koperasi tidak hanya menyerap ribuan tenaga kerja tetapi mendorong perekonomian masyarakat," kata Arie di Pangkalpinang, Sabtu.
Kinerja keuangan koperasi di Babel juga menunjukkan tren positif. Volume usaha dari 130 koperasi aktif tercatat mencapai Rp25.684.761.245 dengan Sisa Hasil Usaha (SHU) sebesar Rp5.657.344.812. Angka ini menjadi indikator bahwa koperasi masih menjadi sokoguru perekonomian daerah.
Sementara itu, 12 koperasi yang tidak aktif seluruhnya berada di Kota Pangkalpinang. Penyebabnya, koperasi-koperasi tersebut sudah tidak lagi menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) sebagaimana diatur dalam undang-undang perkoperasian.
Pemerintah pusat saat ini tengah gencar mendorong pembentukan Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) sebagai motor pertumbuhan ekonomi dari tingkat bawah. Namun, Arie memastikan program anyar ini tidak memengaruhi kinerja koperasi yang sudah ada.
"Alhamdulillah, pembentukan KDKMP tidak mempengaruhi koperasi dan masih berjalan dengan baik," ujarnya menambahkan.
Dengan jumlah tenaga kerja yang terus bertambah, sektor koperasi di Bangka Belitung diharapkan mampu menjadi penopang utama pengurangan pengangguran, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini bergantung pada sektor pertambangan timah yang fluktuatif.