KOBA — Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah melalui Dinas Perikanan mengalokasikan dana Rp150 juta untuk tiga paket pengembangan sarana produksi budi daya ikan air payau. Program ini menyasar nelayan di wilayah pesisir yang paling rentan terdampak cuaca buruk musiman.
Kepala Dinas Perikanan Bangka Tengah Imam Soehadi mengatakan budi daya yang dikembangkan meliputi ikan nila salin, kepiting bakau, udang vaname, dan kakap putih. Keempat jenis ikan air payau ini dipilih karena sesuai dengan potensi wilayah pesisir setempat.
"Kami ingin memastikan nelayan tidak mengalami masa paceklik, terutama selama tiga bulan ke depan dengan mengembangkan budi daya ikan nila salin, kepiting bakau, udang vaname dan kakap putih," kata Imam di Koba, Senin.
Imam menjelaskan setiap paket pembangunan sarana produksi senilai Rp50 juta. Dana tersebut dialokasikan untuk mendukung kegiatan budi daya masyarakat pesisir agar mampu meningkatkan produksi perikanan di luar sektor penangkapan.
"Salah satu bentuk dukungan pemerintah daerah yaitu tahun ini dilakukan pengembangan sarana produksi sebanyak tiga paket," ujar dia.
Program ini merupakan terobosan strategis Pemkab Bangka Tengah untuk mengurangi dampak ekonomi dari siklus paceklik yang rutin terjadi setiap musim cuaca ekstrem. Pemerintah berharap budi daya air payau tidak hanya menjadi solusi sementara saat nelayan tidak bisa melaut.
"Harapan saya pengembangan budi daya tersebut tidak hanya menjadi solusi jangka pendek saat nelayan tidak dapat melaut, tetapi juga menjadi sumber pendapatan alternatif yang berkelanjutan sehingga ketahanan ekonomi masyarakat pesisir semakin kuat," ujar Imam.
Dengan adanya program ini, nelayan di Bangka Tengah diharapkan tetap memiliki penghasilan meski cuaca buruk menghadang. Pengembangan budi daya ikan air payau menjadi contoh adaptasi ekonomi masyarakat pesisir yang bergantung pada kondisi alam.