KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — SpaceX mengantongi izin global facilities-based dan resale authority dari FCC, membuka jalan Starlink Mobile hadir di lebih banyak negara di luar Amerika Serikat. Layanan ini menghubungkan ponsel LTE biasa langsung ke satelit tanpa antena khusus, dan sudah beroperasi lewat operator mitra di AS, Jepang, Australia, serta Kanada. Namun ekspansi ke Indonesia tetap bergantung pada kesepakatan dengan operator lokal dan izin regulator.
Izin dari Federal Communications Commission Amerika Serikat itu mencakup dua jenis kewenangan sekaligus: global facilities-based dan resale authority. Artinya, SpaceX tidak hanya boleh membangun fasilitas telekomunikasi lintas negara, tapi juga menjual ulang kapasitas ke pihak ketiga. Kombinasi keduanya jadi pintu masuk komersial yang lebih lebar dibanding izin uji coba.
Yang perlu digarisbawahi, restu FCC bukan tiket otomatis untuk hadir di seluruh dunia. Setiap negara tetap punya kewenangan sendiri soal spektrum, lisensi operator, dan persetujuan layanan satelit. Tanpa operator mitra setempat, Starlink Mobile tidak bisa jalan.
Starlink reguler membutuhkan terminal antena khusus di rumah atau kendaraan. Starlink Mobile bekerja sebaliknya: satelitnya membawa antena yang berfungsi seperti menara BTS di orbit, sehingga ponsel LTE yang sudah beredar bisa terhubung langsung tanpa perangkat tambahan.
Pendekatan ini menyasar wilayah yang tidak terjangkau sinyal terestrial. Saat ini layanan tersebut sudah mendukung pesan dan sejumlah fungsi data lewat operator seluler mitra di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan Kanada.
SpaceX sedang menyiapkan satelit generasi kedua, Starlink Mobile V2. Perusahaan mengklaim V2 mampu menghadirkan konektivitas seluler 5G dengan throughput sekitar 20 kali lebih tinggi dibanding generasi pertama. Klaim itu mencakup kemampuan streaming, panggilan video, dan internet berkecepatan tinggi.
KDDI di Jepang sudah meneken kesepakatan untuk menghadirkan layanan V2 dengan broadband dan panggilan suara langsung ke ponsel. Target ketersediaannya akhir 2027. Perlu dicatat, angka 20 kali lipat masih klaim internal SpaceX dan belum diverifikasi pengujian independen.
Konsep roaming lintas negara lewat jaringan satelit jadi salah satu daya tarik utama. Pengguna berpotensi tetap terhubung saat berpindah yurisdiksi tanpa bergantung pada menara BTS lokal.
Namun implementasinya berlapis. Operator seluler di tiap negara harus mau bekerja sama, dan regulator harus mengeluarkan izin. Izin global dari FCC mempercepat jalur diplomasi korporat, tapi tidak menghapus kewajiban perizinan domestik di negara tujuan.
Starlink sudah beroperasi resmi di Indonesia, tetapi layanan internet satelit dan Starlink Mobile adalah dua hal berbeda. Layanan internet Starlink memakai terminal antena, sementara Starlink Mobile menyasar ponsel langsung.
Untuk masuk ke Tanah Air, SpaceX perlu menggandeng operator seluler Indonesia dan memperoleh izin dari Kementerian Komunikasi dan Digital. Belum ada pengumuman resmi soal mitra lokal maupun jadwal masuknya layanan ini.
Bagi pengguna di daerah terpencil, kehadiran Starlink Mobile berpotensi menutup celah blank spot yang selama ini sulit dijangkau BTS terestrial. Wilayah seperti pedalaman Kalimantan, Papua, dan pulau-pulau kecil jadi kandidat penerima manfaat terbesar.
Di sisi lain, operator seluler nasional punya kepentingan sendiri. Skema kerja sama yang saling menguntungkan, misalnya bagi hasil kapasitas atau roaming timbal balik, akan menentukan seberapa cepat layanan ini bisa dinikmati pengguna Indonesia.
Tanpa kejelasan soal mitra dan izin, Starlink Mobile masih berstatus peluang, bukan kenyataan untuk pasar Indonesia.