YOGYAKARTA — Pengalaman bertemu Carlo Jikustik itu dialami langsung oleh Prima Trisna Aji, seorang dosen Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang yang juga penggemar lama Jikustik. Pertemuan berlangsung tanpa rencana saat ia sedang berlibur bersama keluarga di Yogyakarta dan menginap di sebuah hotel. Dari obrolan singkat itu, Prima menangkap sesuatu yang jarang ia temui dari figur publik.
Prima mengaku tumbuh bersama lagu-lagu Jikustik, dari album-album awal hingga karya terbaru. Lagu seperti Setia, Maaf, Tak Ada yang Abadi, Puisi, Selamat Malam Dunia, dan Bagai Elang bukan sekadar rangkaian nada baginya. Lagu-lagu itu menjadi bagian dari kenangan masa kecil dan masa muda.
Baginya, Jikustik punya ciri khas: melodi sederhana tetapi membekas, lirik romantis yang tetap dalam, dan musik yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sepanjang perjalanan grup asal Yogyakarta ini, posisi vokalis beberapa kali berganti, dari era Pongki Barata, lalu Brian Prasetyoadi, hingga kembalinya Icha. Bagi Prima, pergantian itu tak menghilangkan identitas musikal Jikustik.
Perhatian publik memang wajar tertuju ke vokalis yang berada di garis depan pertunjukan. Namun, ia menilai sebuah grup musik tidak pernah dibangun oleh satu orang saja. Di balik irama drum, ada Carlo yang layak mendapat perhatian bukan hanya karena kemampuan bermusiknya.
Yang paling membekas dari pertemuan itu bukan status Carlo sebagai musisi terkenal. Prima menyoroti sikap Carlo yang menyambut percakapan dengan hangat, tanpa menciptakan jarak antara figur publik dan orang yang baru ditemuinya.
Keramahan itu tidak hanya ia rasakan secara pribadi. Carlo juga terlihat memperlakukan resepsionis dan pengunjung hotel lain dengan sikap yang sama. "Keramahan itu tidak hanya saya rasakan secara pribadi, tetapi juga terlihat ketika ia berhadapan dengan resepsionis dan pengunjung hotel lainnya," tutur Prima dalam tulisannya.
Dari pengamatan sederhana itu, Prima menangkap kemampuan menghargai orang lain tanpa memandang status sosial, sesuatu yang menurutnya semakin berharga di tengah kehidupan modern.
Belakangan, melalui komunikasi WhatsApp, Prima mengetahui Carlo baru saja tampil dalam sebuah kegiatan di Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA). Kiprah Carlo juga tidak berhenti pada Jikustik.
Pada Februari 2026, Carlo terlibat bersama Adhit Jikustik dalam Klaten Project melalui lagu religi Tuhan Itu Ada. Proyek itu turut menghadirkan Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo dan sejumlah musisi lain, memperlihatkan bahwa pengalaman panjang di industri musik bisa membuka ruang kreativitas baru.
Bagi Prima, pertemuan itu mungkin tampak biasa. Namun ia menilainya sebagai pelajaran yang tidak selalu ditemukan di ruang kuliah atau buku pengembangan diri: seseorang bisa memiliki nama besar tanpa merasa perlu membesarkan dirinya di hadapan orang lain.
Di industri hiburan, popularitas kerap diukur dari jumlah penonton, pengikut media sosial, atau seberapa sering seseorang menjadi perbincangan. Prima menawarkan ukuran lain yang tak kalah penting, yakni bagaimana seseorang bersikap ketika sorotan kamera tidak lagi mengarah kepadanya.
Prestasi dan karakter, tulisnya, semestinya berjalan beriringan. Seorang musisi boleh dikenal karena teknik bermainnya, seorang penyanyi boleh dipuja karena keindahan suaranya. Namun penghormatan yang lebih mendalam sering kali tumbuh dari cara seseorang memperlakukan orang lain.