Rencana impor bubuk nikel dari Filipina yang sempat menimbulkan pertanyaan publik akhirnya terjawab sudah. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, pembahasan tersebut murni bersifat bisnis antar pelaku usaha alias business-to-business (B2B), bukan hasil perundingan di tingkat kepala negara.
"Dalam pembahasan bilateral antar pimpinan negara tidak ada. Yang ada itu komunikasi antara pengusaha Indonesia dan pengusaha Filipina," ujar Bahlil di Kementerian ESDM, Senin (11/5/2026).
Koridor Nikel yang Menyatukan Hulu-Hilir
Kesepakatan strategis ini diresmikan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation. Dokumen itu diteken Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA) di sela-sela KTT AECC ke-27 di Cebu, Filipina.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, MoU ini menciptakan apa yang disebut Indonesia-Philippines Nickel Corridor. "Koridor ini menjadi fondasi yang menghubungkan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih hulu dari Filipina," katanya dalam keterangan resmi, Sabtu (9/5/2026).
Smelter di Indonesia saat ini membutuhkan pasokan bijih dengan rasio silikon terhadap magnesium yang spesifik. Kebutuhan itu bisa dipenuhi melalui proses pencampuran (blending) dengan bijih nikel asal Filipina.
Kekuatan Dua Negara yang Saling Melengkapi
Data Kementerian ESDM menunjukkan, Indonesia menguasai sekitar 43% cadangan nikel global. Sementara Filipina diperkirakan memiliki 15% hingga 20%. Jika digabung, kedua negara menguasai lebih dari 60% cadangan nikel dunia.
"Filipina punya bahan baku, tetapi industrinya belum berkembang seperti Indonesia. Jadi ruang kerja sama tetap ada dan enggak masalah," ujar Bahlil.
Lewat koridor ini, Filipina tak lagi sekadar mengekspor bijih mentah. Mereka akan terintegrasi ke rantai nilai regional yang lebih tinggi. Di sisi lain, Indonesia mendapat jaminan pasokan untuk industri baterai kendaraan listrik dan baja tahan karat yang terus tumbuh.
"Dengan koridor ini, Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah. Mereka akan terintegrasi ke dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi," pungkas Airlangga.