Pencarian

Harga TBS Sawit di Bangka Sentuh Rp 3.000 per Kg, Petani Khawatir Produksi Anjlok Akibat Harga Pupuk Melonjak

Minggu, 14 Juni 2026 • 10:13:01 WIB
Harga TBS Sawit di Bangka Sentuh Rp 3.000 per Kg, Petani Khawatir Produksi Anjlok Akibat Harga Pupuk Melonjak
Harga TBS sawit di Bangka Sentuh Rp 3.000 per kilogram di tingkat pabrik.

BANGKA — Harga tandan buah segar (TBS) sawit di Kepulauan Bangka Belitung kini menunjukkan tren positif. Di tingkat pabrik, harga mencapai Rp 3.000 per kilogram, sementara di level pengepul berkisar Rp 2.700 hingga Rp 2.800 per kilogram. Kenaikan ini dinilai petani sebagai angin segar setelah harga sempat terpuruk pada bulan lalu.

Namun, optimisme itu langsung dihadapkan pada realitas pahit di lapangan. Harga pupuk yang menjadi kebutuhan pokok perkebunan sawit melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir.

Harga Pupuk Melonjak, Petani Terjepit

Plt Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Bangka Belitung, Jamaludin, mengungkapkan bahwa hampir 90 persen aspirasi petani sebelumnya telah terpenuhi. "Sekarang tantangannya harga pupuk yang cenderung naik akhir-akhir ini," ujarnya, Sabtu (13/6/2026).

Data di lapangan menunjukkan, harga pupuk NPK compact kini mencapai Rp 630.000 per kemasan. Urea granul dibanderol Rp 625.000, KCL mahkota Rp 480.000, dan dolomite Rp 60.000 per kemasan. Kenaikannya bervariasi, mulai Rp 40.000 hingga Rp 70.000 per kemasan.

Jamaludin menjelaskan, kenaikan ini memaksa petani menyiapkan modal lebih besar. "Selain ongkos perawatan dan jasa angkut, harga pupuk yang mahal dan musim kemarau yang akan kita hadapi, bisa membuat produksi anjlok," kata dia.

Harga CPO Naik, Tapi Biaya Produksi Juga Membengkak

Kenaikan harga TBS sawit sebenarnya sejalan dengan tren harga crude palm oil (CPO) di pasar lelang. Pada pekan lalu, harga CPO di lelang Franco Belawan dan Dumai tercatat Rp 15.450 per kilogram. Sementara di Franco Teluk Bayur Rp 15.095 dan FOB Talang Duku Rp 15.025 per kilogram.

Jamaludin menambahkan, permintaan global terhadap minyak sawit Indonesia masih tinggi. "Minyak sawit kita dibutuhkan oleh berbagai negara, apalagi sekarang ada program minyak sawit untuk bahan bakar solar mulai dari 50 persen sampai 100 persen akan diambil dari CPO," ujarnya.

Ia berharap stabilisasi harga jual TBS berimplikasi langsung pada peningkatan produksi petani. Namun, jika ongkos operasional membengkak, keuntungan petani justru tergerus.

Potong Wajib di Pabrik Bisa Capai 7 Persen

Selain soal pupuk, petani juga harus menanggung potong wajib di pabrik. Rata-rata potongan berkisar 3 persen, namun saat musim hujan bisa melonjak hingga 5 sampai 7 persen. Hal ini semakin menekan margin keuntungan petani kecil.

Jamaludin pun mendesak pemerintah untuk segera turun tangan. "Komoditas sawit sangat berdampak pada lapangan kerja dan perekonomian daerah, jadi mohon pemerintah memperhatikan tata kelolanya dan ketersediaan pupuk dengan harga lebih murah," harapnya.

Bagikan
Sumber: regional.kompas.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks