KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Ruas Tol Langsa–Aceh Tamiang yang merupakan kelanjutan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dinilai memiliki urgensi strategis. Dalam paparan proyek, jalan tol ini dinilai mampu mempercepat mobilisasi personel, penyaluran bantuan kemanusiaan, hingga distribusi logistik ketika bencana terjadi.
Kehadiran ruas tersebut juga diharapkan memperkuat ketahanan jaringan transportasi di wilayah utara Pulau Sumatera. Saat ini, Kabupaten Aceh Tamiang termasuk salah satu daerah yang kerap dilanda banjir setiap tahun.
Komisi VI DPR Dorong Percepatan Konstruksi
Ketua Tim Kunjungan Kerja Komisi VI DPR RI Andre Rosiade menyatakan dukungannya terhadap percepatan pembangunan koridor JTTS di wilayah utara. Dukungan itu mencakup penyelesaian ruas Pangkalan Brandan–Langsa serta rencana pembangunan Tol Langsa–Aceh Tamiang.
"Kami berharap, trase Jalan Tol Pangkalan Brandan–Langsa dapat segera memasuki tahap konstruksi, sehingga konektivitas Medan hingga Aceh dapat segera terwujud. Komisi VI DPR RI juga mendukung rencana pembangunan ruas Langsa–Aceh Tamiang sebagai kelanjutan koridor Jalan Tol Trans Sumatera," ujar Andre dalam keterangan resmi, Jumat (24/7).
Menurut Andre, pembangunan kedua ruas itu tidak hanya penting untuk konektivitas, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan, memperlancar mobilisasi logistik, dan memperkuat kapasitas penanganan kebencanaan di Aceh dan Sumatera Utara.
Progres Tol Binjai–Langsa: Lima Seksi, Satu Seksi Sudah Beroperasi
Saat ini, Tol Binjai–Langsa merupakan bagian dari koridor utama JTTS yang menghubungkan Sumatera Utara dan Aceh. Ruas Binjai–Pangkalan Brandan sepanjang 57,5 kilometer telah beroperasi dan melayani mobilitas masyarakat.
Nantinya, koridor itu akan diperpanjang hingga Langsa dengan total panjang mencapai sekitar 130,7 kilometer. Jalan tol tersebut terdiri atas lima seksi:
- Seksi 1 Binjai–Stabat: 12,3 kilometer
- Seksi 2 Stabat–Tanjung Pura: 26,2 kilometer
- Seksi 3 Tanjung Pura–Pangkalan Brandan: 19,02 kilometer (telah beroperasi)
- Seksi 4 Pangkalan Brandan–Kuala Simpang: 44,2 kilometer
- Seksi 5 Kuala Simpang–Langsa: 29 kilometer
Dampak Ekonomi dan Keberlanjutan Proyek
Secara ekonomi, koridor Pangkalan Brandan–Langsa diproyeksikan mampu memangkas jarak tempuh hingga 15,03 persen dan menghemat waktu perjalanan sebesar 51,78 persen. Proyek ini juga memiliki Economic Internal Rate of Return (EIRR) sebesar 13,24 persen, yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, investasi, serta pemerataan pembangunan di Sumatera Utara dan Aceh.
Direktur Operasi III PT Hutama Karya (Persero) Iwan Hermawan mengatakan, dukungan Komisi VI DPR RI menjadi faktor penting untuk memastikan keberlanjutan pembangunan JTTS. "Dukungan tersebut menjadi faktor penting agar pembangunan JTTS dapat terus berjalan sesuai target, sehingga manfaat konektivitas, pemerataan ekonomi dan peningkatan daya saing wilayah dapat segera dirasakan masyarakat," ujarnya. Terkait Huntara, Iwan menambahkan pihaknya akan berkoordinasi dengan Danantara dan instansi terkait untuk tindak lanjutnya.