Pencarian

Tiga Tanda Gunung Anak Krakatau Mulai Mereda: Gempa Menurun hingga Deflasi

Selasa, 08 September 2026 • 12:37:31 WIB
Tiga Tanda Gunung Anak Krakatau Mulai Mereda: Gempa Menurun hingga Deflasi
Petugas memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui data instrumental di pos pengamatan.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung menyisakan pertanyaan besar: kapan aktivitasnya benar-benar berhenti? Jawabannya tidak cukup dengan mengamati ada atau tidaknya letusan di puncak kawah.

Aktivitas gunung api bersifat fluktuatif. Letusan bisa mereda sementara, lalu kembali meningkat jika pasokan magma dari kedalaman bumi masih berlangsung. Karena itu, para ahli mengandalkan data instrumental untuk membaca kecenderungan, bukan menebak tanggal.

Penurunan Frekuensi Gempa Vulkanik

Indikator pertama yang diamati adalah tren penurunan jumlah dan kekuatan gempa vulkanik. Getaran-getaran ini berasal dari pergerakan magma, tekanan gas, maupun rekahan batuan di bawah gunung.

Ketika frekuensi gempa vulkanik dalam dan dangkal terus menurun secara konsisten, tekanan dari dalam perut bumi dianggap mulai melemah. Ini menjadi sinyal awal bahwa suplai magma menuju permukaan berkurang.

Gas Vulkanik dan Deflasi Tubuh Gunung

Tanda kedua adalah menurunnya emisi gas vulkanik, seperti sulfur dioksida (SO2). Gas ini keluar saat magma naik dan tekanannya menurun. Jika konsentrasinya mengendap, aktivitas erupsi diperkirakan melambat.

Ketiga, terjadi deflasi atau penyusutan tubuh gunung. Inflasi terjadi ketika gunung mengembang karena desakan magma, sedangkan deflasi menandakan kantong magma di bawah permukaan mulai mengosongkan isinya. Pembacaan deformasi ini biasanya dilakukan dengan tiltmeter atau GPS.

"Yang bisa dilakukan oleh para ahli vulkanologi bukanlah menebak tanggal, melainkan membaca pola," kata Daryono dalam pernyataan resminya di X, Selasa (8/9/2026).

Kapan Status Aman Diumumkan?

Kombinasi dari tiga indikator itu—gempa menurun, gas menipis, dan deflasi—memberikan gambaran utuh tentang fase akhir erupsi. Namun, para ahli tetap menunggu konsistensi data dalam beberapa pekan sebelum merekomendasikan penurunan status.

Masyarakat dan otoritas penerbangan tetap diminta waspada terhadap abu vulkanik yang dapat mengganggu jarak pandang dan mesin pesawat. Meski aktivitas menunjukkan tren mereda, potensi letusan tiba-tiba masih ada selama status gunung belum diturunkan secara resmi oleh lembaga berwenang.

Follow suarababel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inews.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks