Pencarian

Kawah Ijen Tutup Akibat Karhutla, Pakar Soroti Pentingnya Aspek Keselamatan Destinasi

Sabtu, 05 September 2026 • 12:52:31 WIB
Kawah Ijen Tutup Akibat Karhutla, Pakar Soroti Pentingnya Aspek Keselamatan Destinasi
Kawah Ijen ditutup sementara untuk aktivitas pendakian dan wisata alam akibat kebakaran hutan dan lahan.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Liburan seharusnya berakhir dengan cerita menyenangkan, bukan kabar duka. Namun, meluasnya kebakaran hutan dan lahan di sejumlah kawasan wisata Indonesia memaksa pengelola menutup destinasi demi keselamatan pengunjung. Kawah Ijen di Banyuwangi menjadi salah satu yang terdampak, menghentikan aktivitas pendakian dan wisata alam di sekitarnya.

Peristiwa ini membuka diskusi yang lebih dalam tentang masa depan pariwisata Indonesia. Sebuah destinasi bukan sekadar lokasi berfoto atau pengejar jumlah kunjungan. Di balik keindahan alamnya, ada denyut ekonomi masyarakat yang bergantung pada kehadiran wisatawan—mulai dari pemandu, pelaku UMKM, hingga pengelola penginapan.

Mengapa Aspek Keselamatan Sering Terlupakan?

Dosen Universitas Indonesia, Deni Danial Kesa, MBA, Ph.D, menilai pembangunan pariwisata Indonesia selama ini sangat kuat dalam konsep 4A: atraksi, aksesibilitas, amenitas, dan ansilari. Namun, ia menyayangkan aspek fundamental lain kerap terpinggirkan.

"Indonesia selama ini sangat kuat dalam membangun destinasi berkonsep 4A. Tetapi perlu ditambahkan satu komponen yang sangat penting, safety dan resilience, sehingga konsep destinasi dapat dikembangkan menjadi 5A+R," ujar Deni kepada detikTravel, Jumat (4/9/2026).

Artinya, destinasi wisata tidak cukup hanya indah dipandang. Wisatawan harus merasa aman, dan pengelola bersama masyarakat wajib memiliki kemampuan untuk menghadapi bencana serta memulihkan kondisi setelah krisis berlalu.

Dampak Berantai yang Tak Terlihat

Deni mengingatkan bahwa destinasi yang tidak aman bukan hanya membahayakan nyawa wisatawan. Lebih dari itu, fenomena ini menghancurkan mata pencaharian masyarakat lokal dan mencoreng reputasi pariwisata Indonesia di mata dunia.

Risiko kebakaran sendiri tidak datang dari satu sumber. Faktor iklim dan musim kering yang ekstrem, material bangunan yang mudah terbakar, instalasi listrik yang tidak terawat, hingga perilaku manusia yang lalai, semuanya bisa menjadi pemicu. Kepadatan aktivitas wisatawan di area terbatas juga menambah tingkat kerentanan.

Bangkit dari Krisis adalah Kunci Ketahanan

Penting dipahami, destinasi yang tangguh bukan berarti tidak pernah mengalami masalah. Justru, ketangguhan diukur dari kesiapan merespons dan kecepatan memulihkan diri ketika bencana terjadi. Kemampuan untuk bangkit ini yang menentukan apakah sebuah kawasan wisata bisa kembali beroperasi dan kepercayaan wisatawan pulih.

Ke depan, paradigma pembangunan pariwisata perlu bergeser. Fokus tidak lagi hanya pada menciptakan destinasi baru yang instagramable, tetapi juga memastikan destinasi yang sudah dipromosikan benar-benar siap dan aman dikunjungi. Kebakaran hutan kali ini bukan sekadar cerita tentang api yang melalap kawasan, melainkan alarm bahwa sektor pariwisata butuh sistem keselamatan yang kokoh agar industri ini berkelanjutan.

Bagi traveler yang berencana berkunjung ke kawasan rawan karhutla, terutama saat musim kemarau, disarankan untuk selalu memantau informasi resmi dari dinas pariwisata setempat atau akun media sosial pengelola destinasi sebelum berangkat. Status tutup dan buka sebuah objek wisata bisa berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi lapangan.

Follow suarababel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: travel.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks