Ratusan tahun setelah berdirinya, Kota Mentok di Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kembali merefleksikan akar sejarahnya. Puluhan warga lintas usia mengikuti ziarah tabur bunga dan doa di Kompleks Makam Bangsawan Permakaman Keramat Kute Seribu, Senin (7/9), dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-292 Kota Mentok.
MENTOK — Suasana hening menyelimuti Kompleks Makam Bangsawan Permakaman Keramat Kute Seribu saat puluhan warga dari anak-anak hingga tokoh budaya dan agama berziarah ke makam pendiri dan pemimpin Kota Mentok. Kegiatan bertajuk "Muhasabah 292 tahun Kota Mentok" ini digagas oleh Perkumpulan Daon Sempor sebagai pengingat akan peran penting kota tua tersebut.
Ketua Perkumpulan Daon Sempor, Silo Sandro, mengatakan ziarah ini menjadi momentum bagi warga untuk mengingat kembali asal-usul kota. Kegiatan sengaja dirancang sederhana dan menghindari perayaan agar makna refleksi lebih terasa.
Mengenang Jejak Pendiri di Usia Ke-292
Tanggal 7 September 1734 Masehi ditetapkan sebagai hari jadi Kota Mentok melalui Peraturan Daerah Kabupaten Bangka Barat Nomor 1 Tahun 2023. Kota ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badarudin Jayawikrama, berlatar belakang momentum berdirinya pemerintahan yang mampu mengurus kepentingan masyarakatnya sendiri.
"Ziarah tabur doa dan bunga ini menjadi momentum kita untuk mengingat akar kota ini mulai dari awal pembentukan, merekam kembali kebaikan para pendiri kota, mengendapkan dalam hati, dan semoga kita dapat mengembangkan nilai kebaikan itu bagi kehidupan di kota ini," kata Silo Sandro di Mentok, Senin.
Generasi Muda Diajak Tak Abai pada Sejarah
Wakil Ketua Perkumpulan Daon Sempor, Bayu Itra, mengajak generasi muda untuk tidak abai atas warisan sejarah yang menjadi identitas Kota Mentok. Menurutnya, kekayaan kota ini hadir dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari.
"Kita sudah mewarisi banyak hal dari kota ini, kepusakaannya yang hadir dalam bentuk nikmat hidup bertoleransi, budaya yang kuat, akulturasi, dan lainnya. Sebagai pewaris, mari kenali kekayaan kita ini. Tugas kita menjaganya dan mewariskan kembali ke generasi berikut," ujarnya.
Menuliskan Harapan untuk Masa Depan Kota
Usai berziarah, para peserta diajak menuliskan kalimat sederhana tentang hal-hal yang ingin mereka pertahankan dan perjuangkan bersama dari Kota Mentok. Ritual ini menjadi penutup refleksi yang diharapkan membekas lebih lama daripada sekadar perayaan seremonial.
"Dengan merayakan hal sederhana pun tidak mengapa, mari kita tutup hari ini dengan perasaan bangga menjadi warga Kota Mentok, karena tak perlu panggung untuk mencintai kota ini. Cukup satu identitas, satu doa, satu kejujuran," kata Silo Sandro.
Perkumpulan Daon Sempor sendiri merupakan organisasi berbadan hukum yang beranggotakan para muda pencinta sejarah dan budaya setempat. Selama ini mereka aktif berkarya di bidang film, fotografi, seni pertunjukan, edukasi, dan kegiatan sosial lainnya di Bangka Barat.