Standar USB-C memang dirancang untuk menyatukan segala hal—dari transfer data hingga pengisian daya—dalam satu konektor ramping. Namun praktik di lapangan menunjukkan cerita berbeda. Sejumlah pengguna melaporkan perangkat mereka tidak mengisi daya sama sekali saat disambungkan ke port USB-C, tetapi langsung merespons ketika kabel dipindahkan ke port USB-A yang lebih legendaris.
Masalah ini bukan sekadar anekdot. Ekosistem kabel USB-C dikenal kacau karena tidak semua kabel mendukung protokol pengisian daya yang sama. Beberapa kabel hanya dirancang untuk transfer data, sementara yang lain gagal menegosiasikan voltase yang tepat dengan perangkat tujuan.
Kabel USB-C Tidak Semua Sama, dan Itu Masalahnya
Perbedaan mendasar terletak pada chip di dalam kabel. Kabel USB-C yang berkualitas memiliki chip elektronik yang berkomunikasi dengan perangkat untuk menentukan arus listrik yang aman. Kabel murah atau yang tidak tersertifikasi sering kali tidak memiliki chip ini, sehingga perangkat menolak menarik daya.
Port USB-A, di sisi lain, memiliki spesifikasi daya yang lebih sederhana dan toleran. Selama dua dekade terakhir, standar ini hampir tidak berubah, sehingga perangkat tahu persis berapa banyak daya yang bisa diharapkan—tanpa perlu negosiasi rumit.
Pengguna Indonesia Terdampak Langsung
Bagi pengguna di Indonesia, masalah ini terasa lebih nyata. Peredaran kabel USB-C palsu atau tidak bersertifikat sangat marak di platform e-commerce lokal. Harganya memang jauh lebih murah, tetapi risikonya tidak sebanding.
Kabel semacam itu tidak hanya gagal mengisi daya, tetapi juga berpotensi merusak baterai perangkat dalam jangka panjang. Fluktuasi arus yang tidak stabil membuat sel baterai cepat panas dan menurunkan kapasitasnya lebih cepat dari seharusnya.
Para ahli menyarankan pengguna untuk selalu membeli kabel USB-C yang memiliki sertifikasi resmi, seperti USB-IF atau MFi untuk perangkat Apple. Memang lebih mahal, tetapi ini adalah investasi untuk umur panjang perangkat.
USB-A Belum Layak Pensiun
Ironisnya, solusi paling praktis saat ini adalah kembali ke port USB-A. Meskipun teknologi ini dianggap kuno, keandalannya justru menjadi nilai jual. Banyak laptop modern masih menyertakan setidaknya satu port USB-A, dan itu bukan tanpa alasan.
Produsen perangkat tampaknya menyadari hal ini. Beberapa laptop terbaru masih mempertahankan port USB-A di samping USB-C, memberi pengguna opsi cadangan yang lebih stabil. Di sisi lain, smartphone Android kelas menengah dan flagship masih menyertakan kabel USB-A ke USB-C di kotak penjualan.
Standar USB-C sendiri sebenarnya mampu memberikan performa jauh di atas USB-A, terutama untuk pengisian cepat 100 watt atau transfer data 40Gbps. Namun kemampuan itu hanya tercapai jika seluruh rantai—kabel, charger, dan perangkat—mendukung spesifikasi yang sama. Satu mata rantai yang lemah saja sudah cukup untuk membuat semuanya gagal.
Selama produsen kabel terus memangkas biaya produksi dengan mengorbankan kualitas, masalah ini tidak akan hilang. Sampai saat itu tiba, port USB-A yang sederhana dan jujur akan tetap menjadi penyelamat bagi banyak pengguna yang frustrasi.