PANGKALPINANG — Para petani di Kepulauan Bangka Belitung disarankan beralih menanam tanaman pangan yang tidak membutuhkan banyak air pada musim kemarau tahun ini. Langkah ini dinilai lebih aman dibanding memaksakan menanam padi yang berisiko mengalami puso atau gagal panen total.
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Kepulauan Babel Slamet Supriyadi mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan menyosialisasikan prediksi musim kemarau 2026 kepada para petani. Sosialisasi dilakukan agar lahan pertanian tetap produktif meski dilanda kekeringan.
"Kami sarankan petani untuk menanam tanaman pangan yang tidak membutuhkan air yang banyak selama musim kemarau ini," kata Slamet di Pangkalpinang, Selasa.
Jagung dan Kacang-Kacangan Jadi Alternatif
BMKG menilai, memaksakan tanam padi saat kemarau hanya akan mendatangkan kerugian besar bagi petani. Alih-alih menuai hasil, petani justru berpotensi kehilangan modal karena lahan kering tidak mampu mendukung pertumbuhan padi.
"Banyak tanaman pangan yang tidak membutuhkan air yang besar, seperti jagung, kacang-kacangan dan lainnya, sehingga lahan pertanian tersebut tetap produktif selama musim kemarau ini," ujarnya.
Pilihan komoditas alternatif ini dinilai lebih adaptif terhadap kondisi cuaca ekstrem. Petani tetap bisa mendapatkan penghasilan tanpa harus bergantung pada ketersediaan air yang melimpah.
Puncak Kemarau Diprediksi September 2026
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di Kepulauan Bangka Belitung akan terjadi pada September 2026. Kondisi kering diperkirakan berlangsung hingga awal 2027, yakni sekitar Januari hingga Februari, sebagai dampak fenomena El Nino.
Saat ini, sejumlah wilayah di provinsi itu sudah mulai mengalami kekeringan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pangkalpinang, misalnya, telah menyalurkan air bersih kepada masyarakat yang terdampak.
"Saat ini beberapa wilayah sudah mengalami kekeringan dan beberapa kabupaten sudah melakukan tindakan, seperti menyalurkan air bersih. Misalnya, BPBD Kota Pangkalpinang telah menyediakan air bersih kepada masyarakat yang sudah mengalami kekeringan," kata Slamet.
Langkah antisipasi sejak dini ini diharapkan mampu meminimalkan dampak buruk musim kemarau terhadap sektor pertanian dan pemenuhan kebutuhan dasar warga di Kepulauan Bangka Belitung.