BANGKA BELITUNG — Kabut asap mulai menyelimuti sejumlah wilayah di Bangka Belitung. Kondisi ini bukan sekadar fenomena musim kemarau biasa, melainkan dampak dari ratusan titik api yang membakar lahan di beberapa kabupaten.
BMKG memperkirakan sekitar 73 persen wilayah Babel berisiko tinggi karhutla sepanjang September–November 2026. Puncak musim kemarau yang berbarengan dengan fenomena El Niño disebut menjadi pemicu meluasnya kebakaran.
Bangka Selatan Penyumbang Titik Api Terbanyak
Dari total 332 titik panas yang terdeteksi, Kabupaten Bangka Selatan menjadi wilayah dengan titik api paling banyak, yakni 182 titik. Angka ini menjadikannya penyumbang terbesar karhutla di provinsi tersebut.
Kondisi serupa terjadi di Pulau Belitung. Pada 3 September, BMKG mendeteksi 36 titik panas di wilayah itu, terpadat di Belitung Timur. Angin tenggara disebut menggiring asap langsung menuju permukiman warga.
BPBD Belitung mencatat sebanyak 279 kejadian karhutla terjadi di pulau itu sepanjang 2026.
Lahan 500 Hektare Hangus di Bangka
Sorotan tajam tertuju pada Kabupaten Bangka. Per 1 September 2026, lahan yang terbakar mendekati 500 hektare, tersebar di lebih dari 250 titik. Hampir setiap hari muncul kejadian baru di wilayah tersebut.
Sejumlah lokasi kritis ikut terdampak. Di Selindung Lama, 27 hektare lahan ludes dan permukiman warga nyaris ikut terjilat api. Bahkan di dekat Kantor Gubernur, api sempat merembet hingga 4 hektare.
Api Sengaja Dinyalakan untuk Buka Lahan
Pihak berwenang menyebut sebagian besar kebakaran bukan terjadi akibat faktor alam. Api justru sengaja dinyalakan untuk membuka kebun dengan biaya murah, namun berdampak merusak lingkungan.
Kebiasaan membakar lahan ini dinilai sudah menjadi tragedi tahunan yang berulang. Padahal dampaknya tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga mengganggu kesehatan warga yang terpaksa menghirup udara penuh asap setiap hari.
Kiriman Asap dari Kalimantan Perparah Kualitas Udara
Kondisi udara di Bangka Belitung kian memburuk pada 4 September. Kiriman asap dari kebakaran di Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat ikut terbawa angin hingga ke wilayah ini.
Akibatnya, udara semakin pekat dan jarak pandang masyarakat semakin pendek. Pemerintah daerah diimbau tidak hanya fokus pada pemadaman, tetapi juga memperketat pengawasan lahan serta penegakan hukum bagi pelaku pembakaran agar kejadian serupa tidak terulang setiap tahun.