KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Rencana ekspansi Pupuk Indonesia ke Rusia Timur ini bukan tanpa alasan. Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengungkapkan bahwa proyek NFP-2 menawarkan struktur biaya bahan baku yang kompetitif, terutama karena berbasis gas alam. Bagi perseroan, ini adalah peluang untuk memperkuat resiliensi rantai pasok pupuk nasional di tengah gejolak harga komoditas global.
"Penjajakan kerja sama kajian ini merupakan salah satu opsi strategi jangka panjang Pupuk Indonesia untuk mengamankan akses bahan baku dan kapasitas produksi global," kata Rahmad di Jakarta, Minggu (6/9/2026).
Dukungan Penuh Danantara
Langkah ini mendapat angin segar dari pemerintah. Rosan P. Roeslani mengungkapkan bahwa penjajakan tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Menurutnya, investasi ini bisa menjadi modal penting bagi Pupuk Indonesia untuk berkembang di pasar internasional.
"Pupuk Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk berinvestasi di Vladivostok dan dengan pihak Rusia," ujar Rosan.
Dengan pengalaman panjang mengolah gas menjadi amonia dan urea, Rahmad menilai perseroan memiliki kapabilitas yang relevan dengan karakteristik proyek NFP yang serupa. Keahlian teknis ini menjadi salah satu modal utama dalam mengkaji kelayakan proyek raksasa tersebut.
Jendela Baru ke Pasar Asia-Pasifik
Daya tarik utama proyek ini bukan hanya pada kapasitas produksinya yang besar, tetapi juga lokasinya. Nakhodka Fertilizer Plant yang dikembangkan JSC Ruschem di Primorsky Krai ini berada di Vladivostok, kota yang memiliki akses langsung ke Samudera Pasifik.
"Ini menjadi menarik karena Vladivostok menghadap Pasifik, kawasan yang selama ini memang menjadi pasar strategis Pupuk Indonesia," kata Rahmad.
Proyek ini direncanakan memiliki kapasitas produksi sekitar 2 juta ton amonia dan 3,5 juta ton urea per tahun, dengan target operasi komersial sekitar 2030. Jika terealisasi, akses logistik yang lebih pendek ke negara-negara Asia-Pasifik akan menjadi nilai tambah tersendiri bagi daya saing perusahaan.
Bagi Pupuk Indonesia, pengembangan NFP-2 bukan sekadar perluasan bisnis, melainkan langkah antisipatif untuk menghadapi dinamika pasar pupuk dunia. Dengan tambahan kapasitas produksi di luar negeri, ketahanan pasokan untuk kebutuhan dalam negeri pun diharapkan semakin kokoh.