Pencarian

48 Desa di Bangka Belitung Masuk Program Desa Devisa, Fokus pada Lada, Lidi Nipah, dan Olahan Perikanan

Minggu, 30 Agustus 2026 • 00:15:32 WIB
48 Desa di Bangka Belitung Masuk Program Desa Devisa, Fokus pada Lada, Lidi Nipah, dan Olahan Perikanan
Petugas menunjukkan kemasan produk olahan perikanan khas Bangka Belitung dalam program Desa Devisa di Pangkalpinang.

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mendorong 48 desa di daerah itu menjadi bagian dari program Desa Devisa. Program ini menyasar tiga komoditas unggulan, yakni lada, lidi nipah, dan olahan hasil perikanan, sebagai upaya menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang lebih beragam dan berkelanjutan di tengah keterbatasan ruang fiskal pemerintah.

PANGKALPINANG — Ekonomi Bangka Belitung tidak bisa selamanya bertumpu pada belanja pemerintah. Butuh kekuatan baru yang lahir dari masyarakat dan sektor riil, dan salah satu jawabannya sedang diuji lewat program Desa Devisa yang menyasar 48 desa di provinsi penghasil timah itu.

Kepala Kanwil DJPb Babel sekaligus Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Babel, Muhamad Mufti Arkan, menegaskan bahwa pembangunan ekonomi berorientasi global harus dimulai dari desa. Menurutnya, potensi yang selama ini tumbuh di tengah masyarakat tidak boleh berhenti sebagai potensi semata.

“Bangka Belitung membutuhkan sumber pertumbuhan ekonomi yang lebih beragam, inklusif, dan berkelanjutan,” kata Mufti di Pangkalpinang, Sabtu.

Dari Mana Ide Program Ini Berasal?

Gagasan ini tidak muncul tiba-tiba. Kanwil DJPb Babel bersama Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), pemerintah daerah, Kemenkeu Satu, dan pelaku usaha melakukan pemetaan serta asesmen terhadap berbagai potensi komoditas daerah.

Hasilnya, tiga komoditas dinilai paling siap untuk didorong naik kelas: lada, lidi nipah, dan aneka olahan hasil perikanan seperti kemplang, getas, dan kerupuk.

Bukan Sekadar Program Ekspor, tapi Membangun Ekosistem

Mufti menekankan bahwa Desa Devisa bukan sekadar program ekspor. Lebih dari itu, program ini dirancang untuk membangun manusia, kelembagaan, dan ekosistem usaha agar masyarakat memiliki kemampuan untuk naik kelas.

Setiap komoditas punya tantangan yang berbeda dan ditangani dengan pendekatan spesifik. Pengembangan lada, misalnya, difokuskan pada konsistensi pasokan, sertifikasi, tata kelola, dan kapasitas produksi.

Sementara untuk lidi nipah, perhatian diarahkan pada peningkatan desain, katalog ekspor, strategi harga, cerita produk, dan pemasaran digital demi meningkatkan daya saing di pasar internasional.

Olahan Perikanan: Masalah Utamanya Bukan Rasa

Untuk produk olahan perikanan seperti kemplang dan getas, persoalannya berbeda. Rasa bukan lagi isu utama, melainkan daya tahan produk, keamanan pangan, konsistensi pasokan, pengemasan, serta sertifikasi yang menjadi syarat mutlak untuk menembus pasar global.

Strategi pemasaran juga menjadi perhatian, karena produk lokal harus mampu bersaing dengan produk sejenis dari daerah lain yang sudah lebih dulu menembus pasar ekspor.

Target Akhir: Produk Lokal Naik Kelas

Seluruh upaya ini diharapkan mampu mengubah produk lokal menjadi komoditas unggulan yang memiliki nilai tambah, identitas, standar, dan akses pasar global. Dengan begitu, perekonomian Bangka Belitung tidak lagi bergantung pada satu sektor, tetapi tumbuh dari kekuatan desa-desanya sendiri.

Follow suarababel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: babel.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks