MENTOK — Sebanyak tujuh kelenteng di Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, menjadi lokasi pelaksanaan Tradisi Sembahyang Rebut yang difasilitasi penuh oleh pemerintah daerah. Kegiatan ini merupakan agenda tahunan warga keturunan Tionghoa yang digelar pada bulan ketujuh tanggal 15 menurut penanggalan kalender China.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, Muhammad Ferhad Irvan, mengatakan fasilitasi ini merupakan wujud kepedulian pemerintah terhadap pelestarian kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat.
"Kita fasilitasi sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap upaya pelestarian kebudayaan yang ada di masyarakat sekaligus menggerakkan pembangunan sektor pariwisata," ujarnya di Mentok, Rabu.
Rangkaian Ritual di Tujuh Kelenteng
Pelaksanaan Sembahyang Rebut pada Rabu berlangsung di empat lokasi, yakni Kelenteng Bhakti Mulya Pelangas, Kelenteng Amal Bhakti Dusun Anyai, Kelenteng Lay Ngok Bakit, dan Kelenteng Sekarbiru. Dua kelenteng lainnya menggelar ritual pada Kamis (27/8), yaitu Kelenteng Kung Fuk Miaw Mentok dan Kelenteng Bhakti Kelabat, disusul Kelenteng Fut Tet Khiung Dusun Tayu pada Jumat (28/8).
Dalam ritual ini, warga bersembahyang di kelenteng dengan tujuan mendoakan arwah leluhur yang berada di neraka agar diangkat ke surga. Prosesi tersebut disimbolkan melalui pembakaran replika patung dalam rangkaian upacara adat.
Warisan Budaya yang Diakui Pemerintah
Sembahyang Rebut atau Chit Ngiat telah ditetapkan sebagai aset budaya Kabupaten Bangka Barat. Tradisi ini masuk dalam pokok pikiran kebudayaan daerah sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan.
Menurut Ferhad, perayaan ini merupakan ritus yang didasarkan pada nilai-nilai tertentu dan dilakukan secara terus-menerus oleh kelompok masyarakat, kemudian diwariskan ke generasi berikutnya. Pemerintah berharap kolaborasi dengan kelompok masyarakat ini mampu melestarikan adat sekaligus mengembangkan daya tarik wisata daerah.
"Pemerintah berupaya agar pelestarian budaya sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas daya tarik wisata, khususnya dari bidang kebudayaan," katanya.
Deretan Ritus Lain yang Masih Lestari di Bangka Barat
Selain Sembahyang Rebut, sejumlah ritus tradisional lain masih berkembang dan dilestarikan masyarakat Bangka Barat. Beberapa di antaranya sedekah bumi, sedekah gunung, tepung tawar, ceriak nerang, ceriak nelam, taber laot, sembahyang pendam, hingga rebo kasan.
Fasilitasi pemerintah terhadap tradisi ini diharapkan mampu mendorong motivasi masyarakat untuk terus menggelar kegiatan budaya dan pariwisata, sehingga perekonomian di daerah ikut tumbuh. Dukungan tersebut sekaligus menegaskan keseriusan Pemkab Bangka Barat dalam pengembangan budaya lokal.