Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, melatih keluarga pendamping orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) melalui program Kelas Jalinan Indah Welas Asih (JIWA) di Mentok, Rabu. Pelatihan tahap kedua ini menyasar 10 caregiver informal dari Kelurahan Tanjung dan Kelurahan Menjelang yang sehari-hari merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa. Program ini lahir dari keprihatinan atas keterkaitan erat antara kemiskinan dan kondisi ODGJ yang saling memperburuk keadaan keluarga.
MENTOK — Sepuluh keluarga dari dua kelurahan di Kecamatan Mentok mengikuti Kelas JIWA tahap kedua yang digelar di Ruang Rapat Kelurahan Menjelang, Rabu. Mereka adalah para perawat informal yang mendampingi anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa selama 24 jam tanpa latar belakang medis resmi.
Kelas JIWA merupakan inovasi yang berangkat dari persoalan kemiskinan. Menurut Lurah Menjelang Fitria Anggreini, kemiskinan dan ODGJ memiliki hubungan timbal balik yang erat. Kondisi gangguan mental dapat memicu kemiskinan, sementara beban ekonomi kerap menjerumuskan individu dan keluarganya semakin dalam.
Beban Ganda yang Ditanggung Caregiver Informal
Keluarga dengan anggota ODGJ menghadapi kerentanan berlapis. Selain membutuhkan pendampingan jangka panjang, mereka harus menanggung berkurangnya produktivitas serta beban ekonomi dari kebutuhan pengobatan dan perawatan.
Lurah Tanjung Gusti Indah menyebut sebagian besar ODGJ di wilayahnya berasal dari rumah tangga berpenghasilan rendah dengan keterbatasan akses pekerjaan tetap. Karena itu, penanganan ODGJ tidak cukup hanya berfokus pada aspek kesehatan, tetapi juga perlu memperhatikan kondisi sosial dan ekonomi keluarga.
Manajemen Stres untuk Perawat Keluarga
Pada pertemuan kali ini, Pengelola Program Jiwa Puskesmas Mentok Rama Ariwijaya memberikan materi bertema "Manajemen Stres Keluarga: Beban Psikologis Caregiver". Para perawat informal ini tidak memiliki pelatihan yang memadai, sementara beban psikologis yang mereka tanggung cukup besar.
Melalui kelas ini, keluarga tidak hanya diberikan pengetahuan mengenai penanganan ODGJ, tetapi juga mendapatkan dukungan emosional. Mereka diajak memahami bahwa merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, pengetahuan, serta dukungan dari lingkungan sekitar.
Menuju Kampung Ramah Jiwa
Kehadiran Kelas JIWA diharapkan menjadi bagian penting dalam membangun Kampung Ramah Jiwa di Kelurahan Menjelang dan Tanjung. Konsep ini mendorong terciptanya lingkungan yang tidak hanya peduli terhadap kesembuhan dan stabilitas kondisi ODGJ, tetapi juga memberikan ruang bagi keluarga untuk memperoleh dukungan psikologis, sosial, dan ekonomi.
Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Bangka Barat Achmad Nursyandi menyambut baik inovasi yang diinisiasi dari tingkat kelurahan ini. Menurutnya, pendekatan yang menaungi komunitas dan keluarga akan lebih efektif dan berdampak pada upaya pemulihan secara medis dan sosial bagi penyandang disabilitas mental.