PANGKALPINANG — Penutupan pelatihan di Balai Besar Betason, Kantor Wali Kota Pangkalpinang, menandai berakhirnya tiga kelas kompetensi yang digelar lewat program "Pangkal Pinang Siap Kerja". Ketiga bidang yang dilatih adalah junior makeup artist, digital marketing, dan coffee roasting.
Dessy Ayutrisna menilai tiga keterampilan itu punya pasar yang terbuka lebar, seiring perubahan tren usaha dan cara masyarakat berbelanja lewat kanal digital.
Dorongan Berdiri di Kaki Sendiri
Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota meminta lulusan pelatihan tidak menggantungkan nasib pada lowongan kerja perusahaan. Menurutnya, keterampilan yang sudah dikuasai bisa langsung dipakai membuka usaha kecil.
"Diharapkan mereka tidak hanya bekerja di industri sesuai bidangnya, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan, menjadi pelaku usaha, bahkan menjadi pemilik usaha yang bisa menyerap tenaga kerja," katanya.
Pernyataan itu menempatkan pelatihan sebagai jalur dua arah: memasok tenaga terampil ke industri sekaligus menumbuhkan wirausaha baru di kota.
Mengapa Tiga Bidang Ini Dipilih
Junior makeup artist menyasar kebutuhan jasa kecantikan yang tumbuh mengikuti momen pernikahan dan acara warga. Digital marketing menjawab kebutuhan UMKM yang mulai berjualan lewat media sosial dan marketplace.
Sementara coffee roasting menyambung tren kedai kopi yang menjamur di Pangkal Pinang. Roaster lokal dibutuhkan agar kedai tidak bergantung pada pasokan biji dari luar daerah.
Dessy menyebut ketiga bidang tersebut dipilih karena peluang usahanya cukup besar di tengah perkembangan tren usaha dan teknologi digital masyarakat.
Bekal untuk UMKM Kota
Pelatihan berbasis unit kompetensi memberi peserta sertifikasi keterampilan yang bisa langsung dipakai di dunia kerja maupun usaha sendiri. Bagi peserta yang memilih berwirausaha, modal keterampilan itu bisa jadi titik awal membuka jasa rias, agency pemasaran digital, atau rumah sangrai kopi skala kecil.
Pemerintah kota belum menyampaikan rencana lanjutan setelah penutupan pelatihan. Namun arah kebijakannya jelas: lulusan diharapkan masuk ke rantai usaha lokal, bukan hanya menjadi pencari kerja.