Kontributor utama BONK, Nom, memproyeksikan integrasi memecoin ke sistem keuangan tradisional melalui peluncuran ETF dan alokasi aset pada bursa Nasdaq. Strategi ini bertujuan memisahkan proyek bereputasi dari spekulasi liar yang kerap merugikan investor ritel. Langkah berani BONK menandai babak baru transformasi aset kripto komunitas menuju pasar modal formal yang teregulasi ketat.
Kontributor inti BONK, Nom, memaparkan ambisi besar proyeknya menembus sekat aset spekulatif dalam panel Consensus Miami, Selasa (28/5). Proyek ini mulai mengamankan posisi di pasar modal Amerika Serikat melalui entitas Bonk Holdings (BNKK) yang melantai di bursa Nasdaq. BNKK, hasil transformasi perusahaan minuman Safety Shot, kini menguasai sekitar 2,7 persen total pasokan beredar BONK.
Strategi BONK mengejar pengakuan institusional melampaui sekadar kepemilikan perusahaan publik. BNKK menargetkan akumulasi token senilai 115 juta dolar AS (sekitar Rp 1,84 triliun) pada akhir 2026. Target ambisius ini menjadi pembuktian apakah memecoin layak menjadi aset cadangan korporasi atau sekadar tren sesaat.
Sementara itu, Tuttle Capital telah mengajukan permohonan ETF BONK dengan leverage 2x kepada SEC Amerika Serikat. Langkah ini menyusul jejak TenX Protocols yang mengalokasikan perbendaharaan publik pada bursa TSX Venture Kanada, Januari lalu. Jika disetujui, instrumen ini menjadi pintu legal pertama bagi institusi untuk mencicipi volatilitas memecoin.
Nom melontarkan peringatan tajam mengenai risiko tinggi di pasar memecoin saat ini. Ia menyamakan peluang cuan dari perdagangan memecoin baru dengan parlay tujuh tingkat dalam taruhan olahraga—peluang yang nyaris mustahil dimenangkan. Mayoritas tim pengembang dianggap tidak memiliki daya tahan untuk menghadapi ketatnya proses regulasi.
"Sebagian besar tim memecoin kekurangan stamina untuk mendorong proyek mereka melalui langkah-langkah regulasi nyata," tegas Nom. Baginya, pencatatan di bursa besar, pengajuan ETF, dan struktur perusahaan publik adalah pembeda nyata antara proyek berumur panjang dan skema yang hanya menguras modal ritel.
Ia juga mengkritik sistem insentif kripto yang memicu trafik anorganik melalui program poin dan airdrop farming. Fenomena ini seringkali hanya menarik modal spekulatif yang segera hengkang setelah hadiah cair. Akibatnya, aktivitas jaringan kerap anjlok drastis hanya dalam hitungan minggu setelah peluncuran.
Perjalanan BONK bermula pada Natal 2022, saat ekosistem Solana terpuruk akibat kolapsnya bursa FTX. Kala itu, harga Solana tersungkur di bawah 10 dolar AS dan memicu keraguan massal di kalangan pengembang. BONK lahir tanpa presale, tanpa sokongan modal ventura (VC), bahkan tanpa whitepaper formal.
Fokus utamanya adalah distribusi langsung kepada pemegang NFT dan pengembang aktif guna membangkitkan gairah komunitas Solana. Strategi ini membuahkan hasil dengan lahirnya berbagai alat pendukung ekosistem yang masif:
Menatap masa depan, Nom memprediksi ledakan komunitas baru akan muncul dari platform yang saat ini dipandang sebelah mata. Ia secara spesifik menyebut jaringan TON (The Open Network) dan proyek berbasis Telegram sebagai kandidat kuat pertumbuhan selanjutnya.
Prediksi ini bersandar pada kemampuan Telegram menjangkau basis pengguna masif yang belum tersentuh ekosistem kripto. Keberhasilan teori integrasi keuangan tradisional (TradFi) ini kini bergantung pada restu SEC atas ETF BONK dan pencapaian target BNKK di akhir tahun.