KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Rupiah dibuka di zona merah sejak awal sesi. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, kurs acuan rupiah pada Senin (11/5) sudah berada di Rp17.415, melemah 40 poin dari posisi akhir pekan lalu di Rp17.375. Di pasar spot pagi ini pukul 09.04 WIB, rupiah diperdagangkan di Rp17.489—terkoreksi 75 poin atau 0,43 persen dari penutupan sebelumnya di Rp17.414.
Bank Indonesia pagi ini merilis IKK April 2026 di level 123,0—naik tipis dari 122,9 pada Maret. Angka di atas 100 menandakan konsumen masih optimistis. Komponen Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) bahkan naik ke 116,5 dari 115,4, menandakan persepsi masyarakat terhadap lapangan kerja, penghasilan, dan daya beli membaik.
Namun, data tersebut tak cukup kuat menahan laju dolar AS. Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyebut rupiah bergerak fluktuatif dan diperkirakan ditutup melemah di rentang Rp17.410—Rp17.460.
Pemicu utama pelemahan rupiah kali ini datang dari luar negeri. Presiden AS Donald Trump menyebut tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian Washington "sama sekali tidak dapat diterima".
Pernyataan itu langsung memicu aksi risk-off di pasar keuangan Asia. Investor memborong dolar AS sebagai aset safe haven, meninggalkan mata uang negara berkembang seperti rupiah. Ketegangan baru di Timur Tengah selalu menjadi momok bagi rupiah karena berpotensi mengerek harga minyak dan memperlebar defisit neraca perdagangan Indonesia.
Meski IKK secara keseluruhan masih di zona optimistis, ada satu catatan yang perlu diwaspadai. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) April tercatat 129,6—turun dari 130,4 pada Maret. Ini indikasi bahwa optimisme terhadap prospek ekonomi ke depan sedikit mereda.
Penurunan tipis IEK ini terjadi di tengah tekanan nilai tukar yang terus berlanjut. Jika rupiah terus melemah, bukan tidak mungkin daya beli yang mulai membaik justru tergerus kembali oleh kenaikan harga barang impor.
Investasi mengandung risiko. Pergerakan rupiah ke depan masih akan bergantung pada perkembangan negosiasi AS-Iran dan data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini.