PANGKALPINANG — Ajim (60) tak pernah absen mendatangi kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Pangkalpinang setiap dua minggu. Bukan untuk dirinya, melainkan demi putri keduanya yang kini berusia 16 tahun dan mengidap thalassemia. Penyakit genetik ini memaksa sang anak menjalani transfusi darah seumur hidup.
"Dalam sebulan setidaknya butuh empat kantong darah," ujar Ajim kepada patrolmedia.co.id, Jumat (15/5/2026). Meski golongan darah B yang dibutuhkan anaknya relatif mudah ditemukan, kekhawatiran soal stok darah habis tetap menghantuinya. Bagi penderita thalassemia, keterlambatan transfusi bisa membuat tubuh lemas dan kadar hemoglobin anjlok.
Thalassemia bukan penyakit menular, melainkan kelainan bawaan pada pembentukan hemoglobin. Dokter Spesialis Anak Konsultan Hematologi Onkologi, Dora Novriska, menjelaskan bahwa kondisi ini membuat sel darah merah mudah rapuh dan cepat pecah. Akibatnya, penderita mengalami gejala utama berupa pucat karena kadar hemoglobin rendah.
"Gejala berat bahkan bisa terlihat sejak bayi, ditandai dengan kondisi pucat yang berulang," jelas Dora. Data tahun 2021 mencatat setidaknya ada 10.000 kasus thalassemia di Indonesia. Di wilayah Bangka Belitung sendiri, sekitar 100 pasien menjalani pengobatan rutin.
Di tengah keterbatasan, muncul kisah kemanusiaan dari Awi (38), seorang petugas kebersihan di RSUD Muhammad Zein Manggar, Belitung Timur. Selama tiga tahun terakhir, ia rutin mendonorkan darahnya setiap tiga bulan sekali untuk Riski (13), seorang penyintas thalassemia. Tak ada hubungan keluarga di antara mereka.
"Awalnya tidak direncanakan. Ibunya Riski mencari donor di rumah sakit, kebetulan golongan darah saya cocok. Sejak itu saya rutin membantu," cerita Awi. Dalam setahun, ia bisa mendonor hingga empat kali. Selama tiga tahun, setidaknya 12 kantong darah telah ia sumbangkan untuk Riski. Dedikasinya bahkan telah dimulai jauh sebelum itu, ketika ia menjadi pendonor tetap bagi anak bernama Deden hingga anak tersebut meninggal dunia.
Kisah serupa juga terjadi di PMI Pangkalpinang. Andi Alexander, seorang pendonor rutin, tanpa sengaja bertemu Ajim dan anaknya saat hendak mendonorkan darah. Percakapan singkat mengungkap bahwa golongan darah Andi cocok dengan kebutuhan anak Ajim yang saat itu masih kurang satu kantong.
"Kebetulan bertemu di sini dan ternyata cocok. Alhamdulillah bisa langsung dimanfaatkan," ujar Andi. Ajim pun mengaku lega. "Anak saya sejak usia dua tahun sudah rutin transfusi. Tadi masih kurang satu kantong, syukurlah ada yang cocok," katanya.
Ajim berharap kesadaran masyarakat untuk menjadi pendonor sukarela terus meningkat. "Mudah-mudahan semakin banyak yang mau donor. Itu sangat membantu anak-anak kami," pungkasnya.