TANJUNGPANDAN — Wakil Bupati Belitung, Syamsir, menegaskan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum strategis untuk menjaga keutuhan bangsa di tengah gejolak politik global. Hal ini ia sampaikan usai bertindak sebagai inspektur upacara di halaman kantor bupati setempat.
Menurut Syamsir, dalam beberapa waktu terakhir terjadi pergeseran nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara. Kondisi ini, lanjutnya, harus diantisipasi dengan memperkuat kembali rasa cinta Tanah Air dan semangat kebersamaan.
"Ayo kita mencintai bangsa Indonesia ini, ayo kita mencintai Tanah Air, ayo terus berkolaborasi, kompak, dan keroyokan dalam pembangunan bangsa," ajaknya di hadapan para peserta upacara.
Peringatan tahun ini mengusung tema "Pancasila Pemersatu Bangsa, Pondasi Perdamaian Dunia". Syamsir menjelaskan, tema ini merupakan pernyataan tegas bahwa nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya relevan untuk menjaga keutuhan di dalam negeri, tetapi juga menjadi jawaban bagi terciptanya perdamaian dunia yang abadi.
"Pancasila adalah 'bintang penuntun' yang telah membuktikan ketangguhannya," ujar Syamsir dalam sambutannya.
Syamsir mendorong seluruh aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat untuk tidak hanya menghafal butir-butir Pancasila, tetapi benar-benar mengimplementasikannya dalam sendi-sendi kehidupan. Pengamalan dan penghayatan nilai-nilai Pancasila, kata dia, menjadi penting untuk menyikapi situasi politik global yang penuh ketidakpastian.
Ia menambahkan, semangat "keroyokan" atau gotong royong yang merupakan inti dari sila kelima harus menjadi motor penggerak pembangunan di Kabupaten Belitung. Dengan kolaborasi yang kuat, berbagai tantangan bangsa dapat dihadapi bersama.
Pemerintah Kabupaten Belitung berharap peringatan ini menjadi titik awal untuk memperkuat kembali nilai-nilai keutuhan bangsa. Mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga tempat kerja, nilai-nilai Pancasila harus dihidupkan kembali dalam tindakan nyata, bukan hanya sekadar wacana.