KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Jakarta — Thio Siujinata, pemilik Craftote, mengaku sempat kesulitan memperluas jangkauan pemasaran saat memulai usaha pada 2021. Promosi hanya mengandalkan lingkungan sekitar dan jaringan pribadi. Namun, setelah mendapat pendampingan dari BRI, produk kerajinan berbasis eceng gondok, pelepah pisang, purun, bambu, hingga rotan mulai dilirik pembeli luar negeri.
Dari Coffee Shop ke Pasar Ekspor
Craftote tak sekadar menjual kerajinan. Konsepnya dipadukan dengan coffee shop di Tomang, Jakarta Barat. Pelanggan bisa melihat langsung proses pembuatan tas, keranjang, kursi, hingga dekorasi lampu dan dinding dari serat alam.
Thio memilih bahan-bahan yang ramah lingkungan. "Eceng gondok, pelepah pisang, dan rotan aman terdekomposisi tanpa merusak air, udara, atau tanah," jelasnya. Nilai inilah yang kemudian menjadi daya tarik utama di pasar ekspor, di mana konsumen asing makin peduli pada produk berkelanjutan.
Peran BRI: Akselerasi Bukan Sekadar Modal
Keberhasilan Craftote menembus empat negara tak lepas dari program pemberdayaan BRI. Lewat pendampingan, Thio mendapatkan akses ke pelatihan ekspor, standarisasi produk, hingga koneksi dengan buyer internasional. Bukan cuma soal pinjaman, BRI juga membantu UMKM naik kelas dari sisi kualitas dan kemasan.
Thio mengakui, dukungan itu membuatnya percaya diri menawarkan produk ke Kanada, Australia, Jepang, dan Inggris. "Prosesnya bertahap, tidak instan. Tapi dengan bimbingan yang tepat, kami bisa bersaing," ujarnya.
Dampak Nyata bagi UMKM Serat Alam
Ekspor Craftote menjadi contoh konkret bagaimana potensi serat alam Indonesia bisa dioptimalkan. Selama ini, eceng gondok dan pelepah pisang sering dianggap limbah. Kini, bahan tersebut disulap menjadi produk bernilai tambah yang diminati pasar global.
Ke depan, Thio berencana memperluas jangkauan ke negara-negara Eropa dan Amerika Latin. Dengan dukungan perbankan yang konsisten, bukan tak mungkin lebih banyak UMKM serat alam lain menyusul jejak Craftote.
BRI sendiri terus memperkuat program pemberdayaan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Keberhasilan Craftote setidaknya membuktikan: produk lokal bisa go global, asal ada ekosistem yang mendukung.