Pengumuman ini disampaikan Omar Shahine, corporate VP Microsoft Scout, dalam gelaran Microsoft Build pada Selasa (20/5). Scout digambarkan sebagai agen yang “selalu aktif” dan “bekerja secara otonom” — berbeda dengan Copilot yang selama ini dikenal sebagai asisten yang menunggu instruksi. “Ia beroperasi di cloud, desktop, dan web, terhubung ke Teams, Outlook, OneDrive, dan SharePoint, serta ke data yang menggerakkan hari Anda, termasuk chat, email, kalender, dan kontak,” tulis Shahine dalam pengumuman resmi.
Jika Copilot selama ini bertindak seperti co-pilot yang membantu saat diminta, Autopilot mengambil peran lebih jauh. Scout, misalnya, bisa menjadwalkan rapat sambil memperhitungkan perbedaan zona waktu, menandai rapat yang dianggap penting, dan menyiapkan materi yang diperlukan pengguna sebelum waktu yang ditentukan. Ia juga bisa memblokir waktu di kalender untuk proyek tertentu serta “mendeteksi risiko seperti keputusan yang mandek.”
Shahine menyebut pendekatan ini “menciptakan cara yang lebih tahan lama untuk menjaga pekerjaan tetap berjalan bahkan ketika perhatian Anda sedang di tempat lain.” Dengan kata lain, Scout bertindak seperti asisten pribadi yang hiper-awas terhadap setiap detail kecil yang harus diselesaikan.
Meski terdengar efisien, langkah Microsoft ini langsung memicu tanda tanya besar dari sisi keamanan. Shahine menjamin Scout dibangun dengan “keamanan dan kontrol kelas enterprise” serta terikat pada identitas Entra yang memungkinkan aktivitasnya dilacak dalam lingkungan perusahaan. Namun, ia juga menyebut bahwa Scout ditenagai oleh OpenClaw — platform yang tidak memiliki reputasi keamanan yang gemilang dan pernah membuat keputusan merugikan atas nama pengguna.
Yang lebih mengkhawatirkan, Microsoft tidak memberikan detail soal perlindungan terhadap eksploitasi AI yang umum terjadi. Seperti yang sudah didokumentasikan, AI agent sering kali mudah dimanipulasi untuk bertindak di luar kehendak operatornya. Halaman web berbahaya bisa menyuntikkan prompt yang membuat agen membocorkan informasi sensitif — tanpa perlu interaksi langsung dari pengguna. Kami telah meminta klarifikasi lebih lanjut dari Microsoft mengenai aspek keamanan ini, namun belum mendapat respons hingga batas waktu pemberitaan.
Saat ini, Scout hanya tersedia dalam akses sangat terbatas. Hanya “sekelompok pelanggan tertentu” dan organisasi yang tergabung dalam program Frontier yang bisa mencoba pratinjau ini. Ada satu syarat tambahan: peserta Frontier hanya bisa mengakses pratinjau Scout jika mereka berlangganan GitHub Copilot — layanan yang baru-baru ini beralih ke model penagihan berbasis pemakaian dan telah membuat tagihan melonjak drastis.
Bagi pengguna Indonesia yang terbiasa dengan ekosistem Microsoft 365, kehadiran Autopilot menawarkan janji produktivitas yang menggiurkan. Namun, dengan rekam jejak Copilot yang output-nya sendiri diakui Microsoft “mungkin tidak selalu akurat,” plus kekhawatiran soal keamanan dan biaya yang tidak transparan, keputusan untuk membiarkan agen ini mengambil kemudi pekerjaan sehari-hari masih membutuhkan pertimbangan matang.