192 Bencana Melanda Bangka Tengah Sepanjang 2025, Kebakaran Hutan dan Lahan Mendominasi

Penulis: Jonatan Nasution  •  Senin, 29 Juni 2026 | 13:17:31 WIB
BPBD Bangka Tengah mencatat 192 kejadian bencana sepanjang 2025, didominasi kebakaran hutan dan lahan.

KOBA — Angka 192 kejadian bencana di Bangka Tengah sepanjang 2025 didominasi oleh kebakaran hutan dan lahan yang mencapai 175 kasus. Sisanya meliputi sembilan kejadian angin puting beliung, tujuh kebakaran lainnya, dan empat kejadian banjir. Data ini dirilis BPBD Bangka Tengah sebagai alarm bagi seluruh pemangku kepentingan di daerah tersebut.

Wilayah Rawan Karhutla yang Dipetakan BPBD

Yudhi Sabara menjelaskan, pihaknya telah memetakan sejumlah kawasan dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran selama musim kemarau. Titik-titik rawan tersebut tersebar di beberapa ruas jalan utama dan kawasan permukiman.

  • Sepanjang ruas Jalan Desa Penyak hingga Desa Terentang
  • Kawasan By Pass Koba
  • Arung Dalam

"Selain kawasan tersebut, beberapa titik di kecamatan lainnya juga masuk pemetaan BPBD sebagai daerah yang memiliki potensi kebakaran cukup tinggi," ujar Yudhi.

Ancaman Meluas Jika Kemarau Berkepanjangan

Yang perlu diwaspadai, jumlah titik rawan kebakaran bisa bertambah apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dari biasanya. Menurut Yudhi, area yang sebelumnya tidak masuk kategori rawan dapat berubah menjadi rentan terbakar akibat kekeringan berkepanjangan. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan sekadar isu global, melainkan ancaman nyata yang dampaknya sudah terasa di tingkat kabupaten.

"Maka kita imbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, menghindari pembakaran lahan, serta segera melaporkan kejadian bencana kepada petugas agar cepat ditangani," tegas Yudhi Sabara dalam keterangannya di Koba, Minggu.

Empat Jenis Bencana yang Paling Sering Terjadi

BPBD Bangka Tengah mencatat setidaknya ada empat jenis bencana yang paling sering melanda wilayah tersebut. Selain karhutla dan angin puting beliung, banjir dan kebakaran permukiman juga menjadi ancaman rutin setiap tahun. Yudhi menambahkan, perubahan iklim global meningkatkan frekuensi kejadian bencana dengan intensitas yang lebih ekstrem, sehingga kesiapsiagaan masyarakat sejak dini menjadi kunci utama.

Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan untuk membuka lahan pertanian atau perkebunan, terutama saat musim kemarau. Pelaporan cepat ke petugas BPBD atau aparat desa setempat menjadi langkah krusial agar api dapat dipadamkan sebelum meluas.

Reporter: Jonatan Nasution
Sumber: babel.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top