PANGKALPINANG — Konflik di Selat Hormuz mulai merembet ke kantong warga Bangka Belitung. Bank Indonesia (BI) mencatat inflasi tahunan provinsi ini mencapai 2,92 persen secara tahunan pada Juni 2026, lebih rendah dari rata-rata nasional yang sebesar 3,34 persen. Capaian itu menempatkan Negeri Serumpun Sebalai sebagai daerah dengan inflasi tahunan terendah ketujuh di Indonesia.
Tekanan inflasi bulanan mencapai 0,35 persen secara bulanan. Kepala Perwakilan BI Bangka Belitung Rommy S. Tamawiwy mengatakan, pemicu utamanya adalah penyesuaian harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax pada 10 Juni 2026.
Kenaikan harga BBM langsung mentransmisikan tekanan ke sektor transportasi. "Yang paling kentara terlihat dari meroketnya tarif angkutan udara akibat melonjaknya harga bahan bakar pesawat (avtur)," kata Rommy di Pangkalpinang, Jumat (3/7/2026).
Secara tahunan, kelompok transportasi tercatat naik 4,20 persen. Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi, yakni 6,17 persen secara tahunan. Kenaikan ini terutama dipicu oleh harga emas perhiasan yang ikut terdorong ketidakpastian global. Investor berbondong-bondong beralih ke aset aman, membuat harga logam mulia ikut melonjak.
Dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, inflasi tahunan mencapai 4,49 persen. Pemicu utamanya adalah kenaikan harga cumi-cumi. Selain faktor global, inflasi Juni juga dipengaruhi faktor musiman di dalam negeri. Harga daging ayam ras meningkat secara bulanan akibat terbatasnya pasokan setelah Hari Raya Idul Adha dan meningkatnya permintaan menjelang perayaan Tahun Baru Hijriah di Bangka Belitung.
Menghadapi tekanan harga ini, BI memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Hingga Juni 2026, TPID telah menggelar 10 kali High Level Meeting untuk menyusun kebijakan pengendalian inflasi. Pemerintah daerah bersama BI juga telah melaksanakan 64 operasi pasar murah dan gerakan pangan murah untuk menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga pangan di masyarakat.