Timbulan Sampah Bangka Tengah Capai 42 Ribu Ton per Tahun, DLH Soroti 31 Ton per Hari yang Tak Terkelola

Penulis: Ricki Manurung  •  Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:59:01 WIB
Timbulan sampah di Kabupaten Bangka Tengah mencapai 42.804,80 ton per tahun, dengan 31 ton per hari belum terkelola.

BANGKA TENGAH — Persoalan sampah di Kabupaten Bangka Tengah bukan sekadar soal kemampuan pemerintah mengangkut dan memproses. Data Neraca Pengelolaan Sampah setahun terakhir menunjukkan, dari total timbulan 42.804,80 ton, sebagian besar memang sudah tertangani, tetapi masih ada sisa yang menganga.

Kepala Bidang Persampahan DLH Bangka Tengah, Bram Wijaya, mengungkapkan angka timbulan sampah tersebut berdasarkan data per tahun. Jika dikonversi ke hitungan harian, sampah yang belum terkelola mencapai sekitar 31 ton setiap hari.

73 Persen Sampah Sudah Tertangani, Sisanya ke Mana?

Dari total timbulan sampah tahunan, DLH mencatat 31.388,05 ton atau sekitar 73,33 persen telah mendapatkan penanganan. Sementara itu, sampah yang masuk kategori terkelola tercatat sebesar 31.425,87 ton.

Artinya, masih ada 11.378,93 ton sampah yang belum masuk kategori terkelola. Angka ini yang kemudian menjadi perhatian utama, karena beban di tempat pemrosesan akhir (TPA) terus bertambah seiring laju timbulan sampah harian.

Pengurangan Sampah dari Sumber: Baru 37,82 Ton per Tahun

Upaya pengurangan sampah dari hulu tercatat masih sangat kecil. DLH mencatat pengurangan sampah baru mencapai 37,82 ton per tahun, yang terdiri atas pemanfaatan kembali sebesar 3,14 ton dan pendaurulangan sebesar 34,68 ton.

“Dalam neraca tersebut, pemanfaatan kembali sampah tercatat sebesar 3,14 ton per tahun, sedangkan pendaurulangan mencapai 34,68 ton per tahun,” ujar Bram.

Angka ini berbanding jauh dengan total timbulan sampah yang mencapai ribuan ton setiap bulannya. Bahkan, pada tahap pengolahan, baru 7.698,91 ton sampah per tahun yang diproses menjadi bahan baku seperti pakan ternak, kompos, atau produk daur ulang.

23 Ribu Ton Sampah Masih Berakhir di Pemrosesan Akhir

Sebanyak 23.689,14 ton sampah per tahun masih berakhir pada tahap pemrosesan akhir. Sementara pemanfaatan sampah sebagai sumber energi tercatat masih nol.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar sampah masih mengandalkan sistem pengangkutan dan penimbunan, bukan dikurangi dari sumbernya. Bram menegaskan, pengelolaan sampah tidak cukup hanya dilakukan ketika sampah sudah berada di tempat pembuangan.

“Upaya pengurangan sampah perlu dimulai dari sumbernya, terutama rumah tangga, kawasan permukiman, pasar, perkantoran, hingga sektor usaha,” katanya.

Peran Rumah Tangga Menentukan

Menurut Bram, pemilahan sampah, penggunaan kembali barang yang masih bernilai guna, serta peningkatan kegiatan daur ulang menjadi langkah penting untuk meringankan beban pengelolaan di hilir. DLH pun mengajak masyarakat mengambil peran lebih besar, tidak sekadar membuang dan mengandalkan pemerintah untuk mengangkut.

Dengan timbulan lebih dari 42 ribu ton setiap tahun, persoalan persampahan di Bangka Tengah pada akhirnya menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah menyediakan sistem dan fasilitas, tetapi masyarakat menentukan dari mana persoalan itu bisa dikurangi.

Jika 31 ton sampah yang belum terkelola setiap hari dapat ditekan dari sumbernya, beban pengelolaan sampah di daerah ini akan jauh lebih ringan.

Reporter: Ricki Manurung
Sumber: okeyboz.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top