KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Menjadi tempat curhat pertama bagi anak adalah impian banyak orang tua. Namun kedekatan ini tidak terjadi begitu saja; perlu pendekatan yang tepat sesuai dengan perkembangan dan karakter unik si kecil. Seperti yang disampaikan dr. Aisah Dahlan, praktisi neuroparenting, dalam seminar parenting di SD Muhammadiyah 5 Jakarta, kuncinya ada pada pemahaman otak dan watak anak. Yuk, simak rangkumannya untuk jadi sahabat sekaligus orang tua bagi anak.
dr. Aisah mengingatkan bahwa cara mendidik anak harus berubah seiring zaman. “Sekarang era baru yang lebih canggih. Ibarat komputer, anak zaman sekarang RAM-nya lebih besar. Daya akses mencari data juga lebih cepat,” jelasnya dalam seminar yang dimoderatori oleh artis Meisya Siregar ini.
Otak manusia rata-rata memiliki sekitar 100 miliar sel saraf atau neuron. Pada anak laki-laki, otak kanan yang berkaitan dengan imajinasi dan gerak berkembang lebih dulu. Keseimbangan dengan otak kiri (logika dan bahasa) baru tercapai sekitar usia 18 tahun. Sementara itu, anak perempuan cenderung lebih cepat mengenal angka dan bahasa karena perkembangan otak kanan dan kirinya lebih seimbang sejak kecil.
Paham cara kerja otak saja tidak cukup. Mama juga perlu mengenali watak bawaan anak yang dibagi menjadi empat tipe: sanguinis, plegmatis, koleris, dan melankolis. Dalam seminar tersebut, peserta diajak mengikuti kuis singkat untuk mengidentifikasi tipe watak ini.
Selain watak, penting juga untuk mengetahui apakah anak berkepribadian introvert, ekstrovert, atau ambivert. Dengan memahami kelebihan dan kelemahan masing-masing tipe, orang tua jadi lebih mudah menentukan gaya komunikasi yang pas. Alih-alih memaksakan kehendak, Mama bisa menyesuaikan cara mendampingi anak sesuai kebutuhannya.
“Sekarang zaman soft touch. Sudah tidak zaman mendidik anak dengan menggunakan kekerasan,” tegas dr. Aisah. Pendekatan keras justru bisa membuat anak semakin tertutup dan takut untuk bercerita.
Ketua Komite SD Muhammadiyah 5 Jakarta, Indah Chairun Nisa, menyampaikan rasa syukurnya karena acara ini akhirnya dapat menghadirkan dr. Aisah setelah dinanti hampir tiga tahun. “Alhamdulillah, setelah menunggu hampir tiga tahun, akhirnya kami berhasil mendapatkan jadwal dr. Aisah... sebagai bentuk komitmen untuk selalu membersamai orang tua murid,” ujarnya.
Menjadi sahabat bagi anak bukan berarti melupakan peran sebagai orang tua. Justru, kedekatan emosional menjadi modal utama untuk membangun komunikasi dua arah yang sehat. Anak akan merasa aman untuk bertanya, bercerita, atau menyampaikan masalahnya tanpa takut dihakimi.
Kepala SD Muhammadiyah 5 Jakarta, Manar Imam Muhammadi, menambahkan bahwa kegiatan parenting ini penting karena tidak semua orang tua bisa otomatis menjadi sahabat bagi anaknya. Dengan belajar memahami cara kerja otak dan watak anak, Mama bisa membangun hubungan yang hangat dan penuh pengertian. Terapkan sedikit demi sedikit di rumah, ya, Ma!