Mengenal Sentra Kerajinan Batik Cual di Pangkalpinang: Dari Galeri Hingga Harga Kain

Penulis: Redaksi  •  Kamis, 03 September 2026 | 22:53:31 WIB
Pengunjung mengamati koleksi kain batik Cual di galeri sentra kerajinan Pangkalpinang, Bangka Belitung.

PANGKALPINANG - Keberadaan sentra kerajinan batik Cual di Pangkalpinang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin lebih dekat dengan wastra Bangka Belitung, khususnya untuk melihat keterkaitan antara motif, keterampilan perajin, dan sejarah daerah. Aktivitas di galeri dan rumah pengrajin Cual tidak berhenti pada transaksi jual-beli kain, melainkan menjadi sebuah perjalanan untuk mengamati bagaimana warisan masa lampau diinterpretasikan ke dalam produk fesyen masa kini.

Secara historis, kain Cual memiliki akar yang panjang dan berkaitan erat dengan perkembangan Muntok sekitar abad ke-17 serta memiliki hubungan dengan tradisi songket Palembang. Seiring waktu, Cual kemudian tumbuh menjadi salah satu identitas kain khas dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Apa dampak keberadaan sentra Cual bagi masyarakat Pangkalpinang?

Pangkalpinang kerap menjadi rujukan ketika membicarakan Cual karena kota ini bukan sekadar lokasi penjualan, melainkan juga menjadi ruang bertemunya tradisi keluarga, perajin, pelaku UMKM, dan inovasi desain. Sebuah penelitian dari Universitas Bangka Belitung pada 2024 mencatat Cual Ishadi dan Cual Maslina sebagai dua pengrajin yang masih bertahan dan menjadi bagian penting dari ekosistem ini.

Ekosistem Cual di Pangkalpinang dinilai menarik karena beberapa faktor. Sebagian pengetahuan dan koleksi Cual merupakan warisan keluarga yang diturunkan lintas generasi. Selain itu, produksi dan penjualan berjalan beriringan karena tempat tertentu berfungsi sebagai galeri sekaligus ruang pengenalan kain. Motif lama pun terus menjadi sumber inspirasi bagi kain tenun maupun produk batik baru.

Dampak ekonomi juga mulai meluas, di mana pemerintah daerah pada Februari 2026 bahkan memperkenalkan peluang ekspor kain Cual dan batik Bangka Belitung hingga ke Kuala Lumpur, membuka pasar yang lebih luas bagi para perajin lokal.

Siapa saja perajin Cual yang masih bertahan di Pangkalpinang?

1. Batik Cual Ishadi

Batik Cual Ishadi adalah salah satu nama yang paling erat dengan pelestarian Cual di Pangkalpinang. Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pernah mencatat lokasi Kain Cual Ishadi di Jalan Ahmad Yani sebagai tempat untuk melihat beragam kain, termasuk koleksi lama yang berkaitan dengan sejarah keluarga pemiliknya. Museum atau galeri Ishadi juga pernah menjadi lokasi kegiatan pengenalan dan pameran, termasuk penyelenggaraan fashion show batik Cual dan Kampung Katak pada 2024.

Pengunjung dapat mempelajari koleksi lama yang dipajang, menanyakan nama motif beserta sumber inspirasinya, serta memahami material yang tidak selalu sama di setiap produk. Informasi daring menyebutkan jam operasional lokasi ini adalah Senin–Sabtu pukul 09.00–18.00, namun jadwal dapat berubah sehingga pengecekan sebelum datang tetap disarankan.

2. Koperasi Tenun Cual Ibu Maslina

Berlokasi di kawasan Selindung, koperasi ini menjadi pilihan lain untuk melihat sisi ekonomi kerajinan secara lebih dekat. Penelitian Universitas Bangka Belitung juga memasukkan Cual Maslina sebagai salah satu pelaku utama dalam konteks keberlangsungan pengrajin di era modern. Pengunjung dapat menyaksikan bahwa di balik selembar kain, terdapat proses panjang yang meliputi pemilihan bahan, penyusunan motif, keterampilan tangan, waktu pengerjaan, hingga strategi pemasaran.

3. Galeri Destiani

Galeri Destiani di Jalan Adhyaksa No. 3, Kacang Pedang, Gerunggang, Pangkalpinang, menawarkan perpaduan teknik tradisional dengan pendekatan desain kontemporer. Situs resmi galeri menyebut penggunaan teknik tenun ATBM serta pengangkatan motif flora-fauna Bangka Belitung seperti Lebah Pelawan dan Bunga Ketuyut. Pendekatan produk di sini menunjukkan bahwa Cual tidak harus selalu hadir dalam bentuk kain tradisional untuk acara adat, tetapi juga bisa masuk ke pakaian sehari-hari, aksesori, maupun busana dengan potongan modern.

Bagaimana cara memilih kain Cual yang tepat saat berkunjung?

Membeli Cual sebaiknya tidak hanya berdasarkan warna yang paling menarik, karena nilai sebuah kain dipengaruhi oleh teknik pembuatan, material, tingkat kerumitan motif, ukuran, dan status produknya. Penting untuk menanyakan apakah kain merupakan tenun tradisional, tenun ATBM, batik tulis, batik cap, atau produk tekstil bermotif yang menggunakan unsur visual Cual. Pertanyaan ini krusial karena istilah "Cual" dapat digunakan dalam konteks produk yang berbeda.

Pemerintah Provinsi Babel dalam dokumen perencanaan industri mencatat adanya pendampingan untuk meningkatkan kemampuan produksi batik Cual tulis dan batik Cual cap, sekaligus diversifikasi produk sentra batik Cual. Dari sisi motif, sumber pemerintah daerah mencatat motif seperti Kembang Gajah, Bunga Cina, Naga Bertarung, dan Burung Hong. Kajian lain juga menyebut variasi seperti Burung Garuda, Kembang Setangkai, Kembang Rukem, Kembang Kenanga, Gajah Mada, Ubur-ubur, Merak, Bebek Setaman, dan Kembang Setaman. Perbedaan daftar ini menunjukkan bahwa kekayaan Cual cukup luas dan tidak tepat direduksi menjadi satu pola tunggal.

Riwayat pembuatan kain juga penting untuk ditanyakan, termasuk siapa pembuatnya, teknik yang dipakai, lama proses pengerjaan, bahan benang yang digunakan, apakah motifnya tradisional atau interpretasi baru, serta bagaimana cara perawatannya.

Berapa kisaran harga kain Cual?

Harga Cual memiliki rentang yang lebar karena material, teknik, kerumitan, dan tingkat pengerjaan berbeda. Profil Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat harga kain Cual mulai dari puluhan ribu rupiah hingga jutaan rupiah, sementara jenis songket Cual tertentu dapat mencapai sekitar Rp15 juta per lembar. Harga murah atau mahal tidak tepat dijadikan satu-satunya indikator keaslian, karena kain dengan harga lebih rendah bisa saja merupakan produk batik cap atau turunan dengan material berbeda, sedangkan kain mahal bisa memiliki nilai lebih dari pengerjaan manual, bahan tertentu, atau nilai historis.

Apa saja tantangan pelestarian Cual di era modern?

Regenerasi perajin menjadi tantangan utama. RRI pada 2025 melaporkan bahwa pelaku kerajinan Cual menilai regenerasi penting karena proses pembuatan yang panjang membuat sebagian generasi muda kurang tertarik mempelajarinya. Ketersediaan bahan baku seperti benang sutra dan pewarna alami juga menjadi tantangan, ditambah persoalan regenerasi, persaingan produksi, dan proses produksi yang disebut dalam penelitian Universitas Bangka Belitung sebagai hambatan. Karena itu, membeli langsung dari perajin memiliki arti lebih besar daripada sekadar transaksi ekonomi.

Apakah Cual sama dengan batik?

Tidak selalu. Cual secara historis dikenal sebagai kain tradisional yang berkaitan dengan tradisi tenun, namun dalam perkembangannya, motif Cual juga diterapkan pada produk batik tulis dan batik cap.

Di mana pusat Cual yang paling dikenal?

Pangkalpinang merupakan salah satu titik penting karena terdapat pelaku dan galeri seperti Ishadi Cual dan Cual Maslina, dan pemerintah daerah juga mencatat sejumlah galeri Cual sebagai bagian dari aktivitas wisata kota.

Apakah kain mahal pasti lebih asli?

Tidak. Harga harus dilihat bersama teknik, bahan, tingkat kerumitan, ukuran, dan proses pengerjaan.

Menelusuri Cual di Pangkalpinang bukan hanya tentang menemukan kain yang indah. Ada jejak Muntok, tangan perajin, motif flora-fauna, ingatan keluarga, dan upaya generasi baru agar warisan tersebut tidak berhenti menjadi benda museum. Dari sanalah sentra kerajinan batik Cual terasa hidup, bergerak dari masa lalu, melewati tangan perajin hari ini, lalu menemukan bentuk baru di masa depan.

Reporter: Redaksi
Back to top