Pencarian

Masalah Menyusui Tak Boleh Andalkan AI, Ini Risikonya

Jumat, 04 September 2026 • 09:45:01 WIB
Masalah Menyusui Tak Boleh Andalkan AI, Ini Risikonya
Seorang ibu memegang ponsel sambil menggendong bayinya yang sedang menyusu.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Malam hari saat buah hati rewel dan puting terasa perih, banyak bunda yang langsung meraih ponsel. Mencari jawaban cepat di media sosial, mengetik keluhan di mesin pencari, atau bertanya pada aplikasi kecerdasan buatan. Kebiasaan ini ternyata sangat umum.

Survei nasional menunjukkan, 51 persen perempuan usia 18–44 tahun akan lebih dulu beralih ke AI, media sosial, atau mesin pencari daring untuk mencari solusi permasalahan menyusui yang mendesak. Hanya 29 persen yang memilih menghubungi dokter atau konsultan laktasi, sementara 21 persen lainnya bertanya pada keluarga atau teman.

Apa yang Bisa dan Tak Bisa Dijawab AI?

AI memang pandai menjelaskan istilah klinis dengan cepat. Misalnya soal penyebab payudara bengkak atau cara meningkatkan produksi ASI. Informasi umum seperti ini cukup membantu bunda yang butuh referensi awal.

Namun jawaban itu tidak menggantikan pemeriksaan langsung. Dokter spesialis anak di Orlando Health Physician Associates, Erynne Bowers, M.D., menegaskan ada pertanyaan-pertanyaan tertentu yang tidak dapat dijawab AI.

"AI tidak bisa melihat grafik pertumbuhan mereka. AI tidak bisa menilai cara bayi melekat pada payudara (latch)," kata Bowers.

Saran Umum yang Berujung Bahaya

Bahaya utama bukan pada informasi yang salah total, melainkan saran yang terlalu umum dan tidak sesuai kondisi bayi. Bowers mengungkapkan sekitar sepertiga ibu yang datang kepadanya pernah menerima saran keliru dari internet. Beberapa kasus bahkan menunda penanganan medis yang seharusnya segera dilakukan.

"Terkadang kami melihat adanya hambatan pertumbuhan akibat hal itu. Kami juga melihat penurunan pasokan ASI ibu karena AI memberi tahu mereka bahwa mereka tidak perlu menyusui sesering itu," ungkapnya.

Bayi yang disarankan menyusu lebih jarang berisiko kekurangan asupan kalori. Di sisi lain, stimulasi payudara yang berkurang justru menurunkan produksi ASI. Dua masalah sekaligus muncul dari satu saran yang tampaknya logis.

Setiap Bayi Punya Kebutuhan Berbeda

Kebutuhan nutrisi bayi dipengaruhi banyak faktor: usia, laju pertumbuhan, riwayat medis, hingga efisiensi saat menyusu. Ada bayi yang menghabiskan waktu lama di payudara tetapi hanya mendapat sedikit ASI. Ada juga yang menyusu singkat namun sangat efisien.

"Tidak semua bayi makan sesering itu. Tidak semua bayi mengonsumsi jumlah yang sama banyaknya," ujar Bowers.

Penilaian menyeluruh seperti kenaikan berat badan, hidrasi, pola buang air, koordinasi hisap-telan-bernafas, hingga gerakan lidah hanya bisa dilakukan tenaga medis. Chatbot AI tidak memiliki kemampuan ini.

Kapan Bunda Harus ke Dokter?

Boleh saja menggunakan AI sebagai sumber informasi awal. Namun segera hubungi dokter atau konsultan laktasi bila bunda mengalami tanda berikut:

  • Berat badan bayi tidak naik atau justru turun.
  • Bayi rewel dan tampak lapar terus-menerus setelah menyusu.
  • Payudara terasa sangat sakit, bengkak, atau muncul tanda infeksi.
  • Bayi kesulitan menempel pada payudara dan bunda ragu teknik menyusui sudah benar.
  • Produksi ASI menurun drastis tanpa sebab jelas.

AI tidak bisa menilai disfungsi motorik mulut anak yang mungkin berkontribusi pada kesulitan menyusui. Hanya pemeriksaan langsung yang bisa mendeteksi masalah seperti ini.

Setiap perjalanan menyusui memiliki tantangannya masing-masing. Saran dari internet boleh dijadikan penambah wawasan, namun pendampingan profesional tetap yang paling aman untuk memastikan bunda dan si kecil mendapat perawatan yang tepat.

Follow suarababel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: haibunda.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks