Startup Besxar Uji Pabrik Semikonduktor di Luar Angkasa Pakai 12 Roket SpaceX

Penulis: Ricki Manurung  •  Rabu, 09 September 2026 | 19:50:31 WIB
Startup Besxar menguji coba fabrikasi semikonduktor di luar angkasa menggunakan 12 misi roket Falcon 9 milik SpaceX.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Membangun pabrik chip di luar angkasa bukan lagi sekadar konsep fiksi ilmiah. Besxar, startup yang didirikan Ashley Pilipiszyn, mantan peneliti OpenAI, tengah mewujudkannya dengan memanfaatkan 12 misi penerbangan booster Falcon 9 milik SpaceX sepanjang tahun ini.

Pendekatan ini berbeda dari upaya manufaktur luar angkasa lainnya yang mengandalkan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) atau kapsul khusus yang kembali ke Bumi. Besxar justru menumpang pada booster roket yang paling sering bolak-balik ke orbit—Falcon 9 tercatat melakukan perjalanan pulang-pergi sebanyak 163 kali pada 2024 dan lebih dari 100 kali tahun ini.

Mengapa Semikonduktor Diproduksi di Luar Angkasa?

Alasan utamanya adalah vakum. Fabrikasi chip di Bumi membutuhkan ruang bersih bertekanan tinggi yang sangat mahal untuk mencegah partikel debu mikroskopis merusak wafer. Di orbit, kondisi vakum alami menghilangkan kebutuhan infrastruktur raksasa tersebut.

"Kita berada di masa di mana lebih hemat biaya untuk pergi ke tempat yang fisika-nya sudah bekerja," ujar Pilipiszyn kepada TechCrunch. "Jangan lakukan di Bumi di mana kita justru melawan fisika."

Hasil Uji Coba Perdana: Wafer Paling Bersih

Dua "fabship" pertama—kapsul kecil untuk membawa dan menguji material semikonduktor—telah terbang dalam misi Starlink pada Juli lalu. Tujuan utamanya sederhana: membuktikan kapsul mampu bertahan saat peluncuran, melindungi sampel wafer dari kontaminasi, dan mengeksposnya ke vakum luar angkasa.

Hasilnya melampaui ekspektasi. "Sampel yang diterbangkan adalah yang paling bersih dan memiliki jumlah partikel paling sedikit dibandingkan wafer terestrial yang tidak diterbangkan," kata Pilipiszyn. "Ini luar biasa bagi kami saat melakukan scale up."

Satu kendala sempat terjadi: malfungsi pada sistem pencatat data penerbangan di salah satu kapsul. Tim Besxar masih menyelidiki penyebabnya, tetapi kegagalan tersebut tidak memengaruhi misi utama.

Rencana Produksi: Dari Pemanasan hingga Deposit Material

Dua tahun ke depan akan digunakan untuk iterasi bertahap. Langkah berikutnya adalah memanaskan wafer, lalu mendepositkan satu material, kemudian dua material, dan seterusnya hingga menghasilkan sampel kualifikasi.

Target akhirnya adalah menerbangkan fabrik berukuran lebih besar di atas Starship, roket generasi berikutnya SpaceX yang masih dalam pengembangan. Pilipiszyn pertama kali mendekati SpaceX tiga tahun lalu untuk membahas pembelian penerbangan Starship, sebelum akhirnya menyepakati kesepakatan muatan booster sebagai cara mereduksi risiko teknologi.

Target Pasar: Chip untuk Data Center dan Mobil Listrik

Besxar—nama yang terinspirasi dari "beskar", logam fiktif dalam Star Wars untuk baju besi Mandalorian—berencana memasok wafer ke produsen chip terkemuka. Produk akhirnya menyasar semikonduktor canggih yang mengatur daya listrik di data center, robot, dan kendaraan listrik.

Startup ini bukan pemain tunggal di bidang antariksa-semikonduktor. United Semiconductors dan Space Forge juga menggarap area serupa, tetapi semuanya menghadapi hambatan yang sama: keterbatasan volume produk yang bisa dibawa kembali ke Bumi.

Besxar menargetkan skala produksi ratusan hingga ribuan wafer per fabrik. Namun, jalan tersebut bergantung pada ketersediaan roket murah—baik Starship yang dioperasikan SpaceX maupun roket generasi baru dari kompetitor seperti Rocket Lab dan Stoke Space.

"Kami yakin lapisan transportasi kini sudah solid, jadi kami bisa fokus pada lapisan aplikasi," ujar Pilipiszyn. "Kami bisa berkonsentrasi pada manufaktur inti dan membawa produk kembali ke pasar secepat mungkin."

Dengan pendanaan hampir USD 14 juta yang terkumpul—termasuk putaran seed USD 9 juta yang dipimpin Dauntless Ventures dan Overture VC—Besxar berada di posisi yang cukup aman untuk membuktikan bahwa pabrik chip di orbit bukan sekadar mimpi.

Reporter: Ricki Manurung
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top