KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Kesuksesan di Inggris Raya menjadi modal berharga bagi serial drama Tip Toe untuk menembus pasar Amerika Serikat. Tayang perdana di AS pada 2 Oktober mendatang di platform Starz, serial ini hadir dengan membawa pesan kuat tentang meningkatnya gelombang homofobia dan kekerasan sistemik, sebuah isu yang kembali memanas setelah adanya kasus kejahatan kebencian anti-gay yang fatal baru-baru ini.
Bukan drama ringan, Tip Toe dibuka dengan adegan menggantung seorang pria gay bernama Leo (Alan Cumming) di depan flatnya di Manchester. Sepanjang lima episode, serial ini mengulik kisah yang mengarah pada tragedi tersebut, berfokus pada hubungan rumit antara Leo dengan tetangganya yang penuh kebencian, Clive (David Morrissey).
Kekuatan serial ini justru terletak pada penggambaran karakternya yang tidak hitam-putih. Clive digambarkan sebagai pria kelas pekerja yang kompleks, hancur oleh kapitalisme modern dan terasing dari perubahan zaman. Sementara Leo, pemilik bar gay, adalah sosok yang penuh cinta namun bisa menjadi provokator sejati bagi keyakinannya.
Penampilan Morrissey dan Cumming—yang tengah rehat dari tugasnya sebagai pembawa acara Traitors yang meraih Emmy—menjadi nyawa dari drama ini. Mereka didukung oleh para aktor queer dan trans yang diberi ruang untuk tampil maksimal dan mendalam.
Russel T Davies, penulis di balik Queer as Folk dan Doctor Who, awalnya meragukan daya tarik Tip Toe. "Proyek ini kecil, niche, queer—tidak langsung menjadi resep sukses. Saya sangat khawatir kami akan tenggelam dan menghilang," ujarnya kepada The Hollywood Reporter.
Kekhawatiran itu terbukti keliru. Hampir 6 juta penonton di Inggris—negara dengan populasi seperlima dari AS—menonton serial ini di bulan pertama penayangannya di platform linear dan streaming. Kesuksesan ini mengejutkan Davies, terutama karena materi seberat ini bisa menembus persaingan dengan drama thriller, zombie, atau detektif.
"Banyak teman gay dan queer, juga komunitas trans, berkata, 'Ya, saya pikir kamu benar.' Kemarahan dan kekerasan yang kamu deteksi di udara itu nyata," kata Davies menambahkan.
Bagi Alan Cumming, proses syuting Tip Toe adalah pengalaman yang intens dan traumatis. "Saya seperti seorang biksu. Saya tahu ini akan menjadi intens dan mengganggu," kenangnya. "Ketika semua orang bereaksi begitu emosional, itu benar-benar memicu saya. Saya tiba-tiba menyadari, 'Ya, itu mengerikan.' Saya belum membiarkan diri saya merasakan betapa traumatisnya itu."
David Morrissey, yang memerankan Clive, mengaku penasaran dengan reaksi penonton Inggris. "Saya bertanya-tanya bagaimana rasanya berjalan di jalan, tetapi orang-orang bisa memisahkan saya sebagai aktor dari karakter saya," katanya. "Banyak orang berkata, 'Itu cerita yang memang perlu diceritakan dan terima kasih telah menceritakannya.'"
Pertanyaan besar muncul: mampukah Tip Toe diterima penonton Amerika? Cumming meragukan hal itu, setidaknya untuk saat ini. "Saya ragu hal seperti ini akan dibuat di Amerika dalam waktu dekat, sayangnya," ujarnya.
Pernyataan ini muncul karena Tip Toe sepenuhnya diproduksi dengan dana Inggris. Davies, Cumming, dan Morrissey sepakat bahwa pendekatan berani dan tanpa kompromi terhadap isu-isu kontroversial seperti ini mungkin hanya bisa lahir dari sistem pendanaan dan keberanian kreatif di Britania Raya.
Dengan segala intensitas dan pesan sosialnya, Tip Toe hadir sebagai potret perlawanan komunitas queer di tengah kebangkitan homofobia budaya. Serial ini menjadi tontonan penting yang memicu percakapan, bukan hanya tentang hiburan, tetapi juga tentang arah masyarakat dunia saat ini.