KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Nilai tukar rupiah dibuka melemah 37 poin atau 0,21 persen dari level penutupan pekan lalu, sejalan dengan pelemahan mata uang kawasan. Yen Jepang merosot 0,14 persen, baht Thailand turun 0,17 persen, dan won Korea Selatan menjadi yang terparah dengan koreksi 0,71 persen. Mata uang utama negara maju seperti euro dan poundsterling juga tak luput dari tekanan, masing-masing melemah 0,12 persen dan 0,01 persen terhadap greenback.
Konflik Global dan Data Domestik Jadi Penentu Arah
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pergerakan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen eksternal. “Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu, investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6).
Ia memperkirakan rupiah akan berkonsolidasi di rentang Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS. Namun, harga minyak mentah yang mulai menurun dinilai bisa menjadi katup penyelamat bagi rupiah dalam jangka pendek, mengingat Indonesia masih menjadi importir minyak.
BI: Dua Sumber Tekanan Berbeda Tapi Saling Menguatkan
Bank Indonesia (BI) mengonfirmasi bahwa tekanan terhadap rupiah berasal dari dua sisi secara simultan. Pertama, faktor global berupa eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu ketidakpastian pasar keuangan global. Kedua, faktor domestik musiman berupa lonjakan permintaan valuta asing (valas) untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen perusahaan.
“Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso pada Jumat (29/5). Ia menambahkan, arus masuk dolar AS yang terbatas membuat kebutuhan valas musiman ini semakin membebani kurs.
Untuk meredam gejolak, BI menegaskan komitmennya untuk tetap berada di pasar. “Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, around the world, around the clock,” tegas Ramdan.
Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Bisnis?
Bagi investor pasar modal, pelemahan rupiah yang berkepanjangan biasanya menjadi sentimen negatif karena meningkatkan risiko nilai tukar, terutama bagi emiten yang memiliki utang dalam dolar. Sementara bagi importir, biaya pengadaan bahan baku otomatis membengkak.
Di sisi lain, pelemahan ini bisa menjadi angin segar bagi eksportir komoditas seperti batu bara dan kelapa sawit, karena penerimaan mereka dalam dolar AS menjadi lebih bernilai saat dikonversi ke rupiah. Pasar kini menunggu rilis data inflasi dan neraca perdagangan besok untuk melihat apakah fundamental domestik mampu menahan laju pelemahan lebih lanjut.