KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Keputusan strategis ini diumumkan langsung oleh Wakil CEO Proton, Datuk Abdul Rashid Musa, Rabu (3/6/2026). Menurutnya, lonjakan permintaan pelanggan telah melampaui proyeksi awal perusahaan sehingga rencana lokalisasi produksi harus dipercepat.
eMas 5 Kuasai Pasar EV Malaysia dengan 8.472 Unit dalam Empat Bulan
Data internal Proton menunjukkan, model SUV listrik eMas 5 mencatat pengiriman sebanyak 8.472 unit pada Januari hingga April 2026. Angka ini menjadikannya EV terlaris di Malaysia dengan selisih signifikan dibanding kompetitor terdekat.
Untuk memangkas waktu inden, lini produksi lokal tidak hanya merakit eMas 5. Proton juga akan segera memproduksi eMas 7 dan eMas 7 PHEV di jalur perakitan yang sama.
Total Penjualan Elektrifikasi Proton Tumbuh 329 Persen
Gabungan penjualan eMas 5, eMas 7, dan eMas 7 PHEV mencapai 11.617 unit sepanjang Januari–April 2026. Performa ini merepresentasikan pertumbuhan 329 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Dengan memperluas aktivitas perakitan lokal, kami menciptakan peluang pengembangan bakat, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan rantai pasokan otomotif lokal,” ujar Abdul Rashid dalam pernyataan resmi yang dikutip dari Paultan.org.
Pabrik EV Tanjung Malim: Dari 20.000 ke 42.000 Unit per Tahun
Fasilitas perakitan EV Proton di Tanjung Malim berdiri di atas lahan 5,57 hektar dengan nilai investasi awal RM 82 juta. Pabrik yang mempekerjakan 391 karyawan ini awalnya dirancang untuk kapasitas tahap pertama 20.000 unit per tahun.
Proyek perluasan yang dipercepat ini dipastikan bakal membuka lapangan kerja baru. Proton mengalokasikan RM 37 juta atau sekitar Rp 128 miliar untuk intervensi kapasitas tersebut.
Indonesia Masih di Tahap Konsep, i2C Belum Produksi Massal
Berbeda dengan Malaysia yang sudah memproduksi massal EV nasional, Indonesia masih berkutat di tahap pengembangan. Mobil listrik nasional berwujud Indigenous Indonesian Car (i2C) baru sebatas konsep SUV 7-penumpang yang dipamerkan ke publik.
Rencananya, i2C akan diproduksi dengan menggandeng fasilitas milik pabrikan yang sudah ada di Indonesia. Namun, belum ada kepastian kapan produksi massal akan dimulai.