KOBA — Bupati Bangka Tengah Algafry Rahman mengatakan kenaikan harga cabai dan bawang merah kerap memicu inflasi daerah akibat pasokan lokal yang belum mencukupi. Selama ini, kebutuhan dua komoditas itu masih bergantung pada pemasok dari luar provinsi.
“Gerakan ini menjadi langkah strategis dalam menyikapi kenaikan harga kebutuhan pokok di tingkat pedagang dan melemahnya daya beli masyarakat, sementara pendapatan cenderung stagnan,” ujar Algafry di Koba, Sabtu.
1 Juta Bibit Cabai Disalurkan ke Enam Kecamatan
Pemkab Bangka Tengah memproduksi bibit cabai merah di kebun pembibitan Desa Air Mesu. Bibit tersebut disalurkan secara gratis kepada 16 kelompok tani yang tersebar di enam kecamatan.
Dinas Pertanian setempat juga memberikan pendampingan melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) serta menyalurkan sarana pendukung pertanian. Saat ini, luas tanaman cabai merah di Bangka Tengah mencapai sekitar 300 hektare dengan produksi sekitar 2.400 ton per tahun.
Kebun Percontohan dan Sentra Bawang Merah di Lubuk Pabrik
Pemerintah membangun kebun cabai percontohan seluas 1,5 hektare di Desa Lubuk Pabrik. Lokasi itu difungsikan sebagai tempat edukasi budidaya cabai bagi masyarakat dan petani setempat.
Di desa yang sama, Pemkab Bangka Tengah memfokuskan pengembangan bawang merah sebagai sentra sekaligus pusat produksi benih lokal. “Khusus pengembangan bawang merah, kita memfokuskan Desa Lubuk Pabrik sebagai sentra sekaligus pusat produksi benih lokal,” kata Algafry.
Bantuan bibit bawang merah dan dukungan sarana pascapanen diberikan kepada kelompok tani di sana. Salah satunya melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) yang membantu pembangunan fasilitas pascapanen bawang merah.
Perluasan Lahan Tidur dan Rawa Produktif
Pemkab Bangka Tengah terus mendorong perluasan areal tanam dengan memanfaatkan lahan tidur dan lahan rawa produktif. Pembinaan kepada petani dilakukan melalui penguatan kelompok tani, pengembangan kebun percontohan, edukasi budidaya hortikultura, hingga pendampingan penangkaran benih lokal.
Program ini melibatkan berbagai unsur masyarakat, terutama kelompok wanita tani dan petani yang tergabung dalam kelompok tani. Targetnya, produksi lokal meningkat dan ketahanan pangan daerah semakin kuat.