PELANGAS — Kontes durian tingkat provinsi itu digelar untuk memetakan sekaligus mengangkat potensi durian lokal yang selama ini tersebar di berbagai kampung di Bangka Belitung. Pemerintah daerah ingin varietas terbaik dari hasil kontes ini bisa didaftarkan dan dibudidayakan secara lebih serius.
Mengapa kontes durian digelar di Bangka Barat?
Desa Pelangas dipilih karena dikenal sebagai salah satu sentra durian di Pulau Bangka. Wilayah ini memiliki banyak pohon durian tua yang berusia puluhan tahun dengan cita rasa khas. Pemprov menilai potensi ini perlu dipetakan agar tidak punah seiring alih fungsi lahan.
Kriteria penilaian dan varietas yang dicari
Setiap durian yang masuk kontes dinilai berdasarkan beberapa aspek, antara lain rasa, tekstur daging, ketebalan, serta aroma. Tim juri terdiri dari akademisi dan pegiat buah lokal. Varietas unggulan nantinya akan didaftarkan sebagai durian khas Bangka Belitung.
“Kami ingin memastikan durian lokal tidak kalah dengan durian dari daerah lain. Dengan kontes ini, kami bisa menemukan mana yang paling potensial untuk dikembangkan,” ujar perwakilan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Dampak bagi petani dan pelestarian durian lokal
Kontes ini diharapkan memberi insentif bagi petani untuk merawat pohon durian tua di kebun mereka. Selain itu, pemprov juga berencana membuat bank benih dari varietas terbaik hasil kontes. Langkah ini penting untuk menjaga keberagaman genetik durian di Bangka Belitung.
Sejauh ini, durian Bangka Belitung dikenal memiliki rasa manis legit dengan biji kecil. Namun, belum banyak yang terdokumentasi secara resmi sebagai varietas unggulan. Kontes ini menjadi langkah awal untuk mengubah hal tersebut.
Tindak lanjut setelah kontes
Pemprov akan mendata seluruh peserta dan hasil penilaian untuk disusun dalam katalog durian lokal. Katalog ini nantinya bisa digunakan sebagai referensi bagi pengembangan agrowisata dan industri olahan durian di daerah.