PANGKALPINANG — Volume ekspor lada putih Bangka Belitung sepanjang 2025 tercatat mencapai 1,37 ribu ton dengan frekuensi pengiriman 184 kali. Nilai ekonominya tembus Rp180 miliar, menurut data Best Trust (Barantin Electronic System for Transaction and Utility Service Technology) yang dirilis Karantina Babel, Minggu.
Kepala Karantina Provinsi Kepulauan Babel, Herwintarti, mengatakan permintaan pasar internasional terhadap lada putih masih tinggi. Pihaknya bersama pemerintah daerah menjalankan Program Go Ekspor secara intensif untuk mengawal komoditas ini.
"Kami ingin komoditas ini tetap menjadi program unggulan pemerintah daerah untuk meningkatkan produksi dan kualitas lada putih ini," kata Herwintarti di Pangkalpinang.
Lima Negara Tujuan Ekspor dan Dominasi Pasar Domestik
Ekspor lada putih Babel selama ini menyasar Vietnam, Singapura, Jepang, Malaysia, dan Taiwan. Namun, pasar domestik masih mendominasi dengan volume lalu lintas komoditas mencapai 6.323 ton dalam 308 kali pengiriman, bernilai Rp535,89 miliar.
Angka itu menunjukkan bahwa meski permintaan ekspor menggiurkan, konsumsi dalam negeri tetap menjadi penopang utama petani lada putih di provinsi penghasil rempah ini.
Produksi Turun, Lahan Berkurang karena Sawit
Di balik capaian ekspor, produksi lada putih Babel justru menunjukkan tren penurunan. Sepanjang 2025, produksi tercatat 9.646,96 ton, turun dari 12.008,66 ton pada 2024.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kepulauan Babel, Kurniawan, menyebut penyebab utamanya adalah berkurangnya luas perkebunan lada putih. Petani banyak yang beralih ke kelapa sawit.
"Penurunan produksi lada putih ini, karena berkurangnya luas perkebunan lada putih sebagai dampak alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit dan lainnya," kata Kurniawan.
Sebaran Produksi: Belitung dan Bangka Selatan Jadi Andalan
Data DPKP menunjukkan produksi lada putih 2025 tersebar di enam kabupaten. Belitung menjadi penghasil terbesar dengan 3.831,82 ton, disusul Bangka Selatan 3.331,45 ton, Bangka 1.198,68 ton, Belitung Timur 1.007,73 ton, Bangka Tengah 161,36 ton, dan Bangka Barat 115,91 ton.
Pola sebaran ini relatif sama dengan tahun sebelumnya, di mana Belitung dan Bangka Selatan konsisten menjadi lumbung lada putih Babel. Pemerintah daerah pun terus mendorong petani di wilayah-wilayah tersebut untuk mempertahankan produksi.
Go Ekspor: Strategi Menjaga Semangat Petani
Program Go Ekspor yang digagas Karantina bersama pemda menjadi kunci menjaga stabilitas harga dan serapan lada putih di tengah fluktuasi pasar global. Dengan pengawalan ketat sejak proses panen hingga pengiriman, kualitas muntok white pepper diharapkan tetap memenuhi standar internasional.
Herwintarti menekankan bahwa kolaborasi lintas instansi ini penting agar petani tidak patah semangat. "Potensi ekspor lada putih ini sangat tinggi," ujarnya.