Kepala BKKBN Babel, Fazar Supriadi Sentosa, di Pangkalpinang pada Sabtu, menyatakan pihaknya bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi serta kabupaten/kota untuk menjangkau seluruh SMP dan SMA. Edukasi ini juga menyasar orang tua agar tidak menikahkan anak di bawah usia ideal.
"Kami berharap para orang tua, khususnya, tidak menikahkan anak perempuan di bawah usia 21 tahun. Sebaiknya anak didorong untuk melanjutkan pendidikan atau bekerja terlebih dahulu," ujarnya.
Pola Pikir Orang Tua Jadi Tantangan
Fazar menilai faktor pendidikan rendah memperparah stunting. Ia menyoroti masih banyak orang tua yang menyuruh anak perempuannya berhenti sekolah dan langsung menikah jika ada lamaran.
"Sekarang ini masih banyak orang tua yang meminta anak perempuannya tidak bersekolah tinggi-tinggi. Jika ada yang melamar, dipersilakan untuk menikah. Pola pikir seperti ini yang memicu tingginya perkawinan usia muda, yang pada akhirnya memicu stunting dan masalah sosial lainnya," katanya.
Stunting Bukan Hanya Soal Gizi
Fazar menjelaskan stunting tidak semata-mata soal gizi. Ia dipicu oleh perkawinan usia muda, pola asuh, kondisi ekonomi, dan kemajuan digital. Dengan menekan pernikahan dini, ia optimistis angka stunting, kematian ibu dan anak, serta risiko perceraian dapat ditekan.
BKKBN Babel menggandeng sekolah dan pemerintah daerah untuk mengedukasi langsung para pelajar. Targetnya: seluruh siswa SMP dan SMA di Bangka Belitung memahami urgensi menunda pernikahan dan melanjutkan pendidikan.