Pencarian

Puluhan Jurnalis Perempuan di Pangkalpinang Ikuti Workshop AJI: Belajar Liputan Lingkungan dan Keamanan

Sabtu, 25 Juli 2026 • 21:35:31 WIB
Puluhan Jurnalis Perempuan di Pangkalpinang Ikuti Workshop AJI: Belajar Liputan Lingkungan dan Keamanan

PANGKALPINANG — Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Pangkalpinang bekerja sama dengan WowBabel Institut dan Yayasan Kelekak Hijau Lestari menggelar workshop yang diikuti puluhan peserta, terdiri dari jurnalis perempuan, aktivis lingkungan, dan mahasiswa pers. Ketua AJI Pangkalpinang, Hendra, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari program advokasi dan peningkatan kemampuan jurnalistik yang berfokus pada jurnalis perempuan.

"Perempuan menjadi fokus kita karena perempuan sangat intens dan sering mendapat pelecehan dan kekerasan yang cukup memprihatinkan, meski di Babel belum ada kejadian yang signifikan," kata Hendra di Pangkalpinang.

Fokus pada Jurnalis Perempuan yang Rentan Pelecehan

Menurut Hendra, meskipun angka kekerasan terhadap jurnalis perempuan di Bangka Belitung belum tercatat signifikan, potensi ancaman tetap tinggi. AJI Pangkalpinang memilih memberdayakan jurnalis perempuan agar lebih siap secara mental dan teknis saat meliput isu-isu sensitif. "Semoga ke depan kegiatan serupa bisa kita lakukan lagi sehingga AJI terus memberikan kontribusi untuk jurnalis perempuan," ujarnya.

Ia juga menyampaikan rencana AJI membuka kelas jurnalistik gratis untuk menggali kembali kemampuan jurnalis dalam teknik menulis, wawancara, dan memahami aturan jurnalistik agar tidak terjebak dalam hukum.

Kerusakan Lingkungan Babel: Ratusan Tahun Tambang Timah, Minim Suara

Perwakilan WowBabel Institut, Barliyanto, mengungkapkan latar belakang digelarnya workshop ini: kondisi lingkungan di Bangka Belitung yang sangat memprihatinkan. "Bangka Belitung sebagai daerah tambang, namun jurnalis yang memberitakan kerusakan lingkungan sangat minim sekali," katanya.

Ia membandingkan dengan pemberitaan tambang nikel di Manokwari yang viral hingga luar negeri hanya dalam beberapa tahun terakhir. "Kita di Bangka Belitung ratusan tahun dengan tambang timah, tapi tidak ada suaranya, sangat memprihatinkan. Jadi kita mencoba memberi advokasi ke teman-teman jurnalis," ujar Barli.

Keterlibatan jurnalis perempuan dalam workshop ini juga menjadi perhatian khusus. Barli menegaskan di AJI tidak ada pembedaan jurnalis berdasarkan gender. "Di AJI itu jurnalis, laki-laki perempuan itu sama, tidak gender. Jurnalis perempuan itu sangat luar biasa," tuturnya.

Ia berharap setelah pelatihan, para peserta mampu membuat laporan yang mendalam tentang kerusakan lingkungan serta memahami rambu-rambu etika dalam menulis isu lingkungan.

Bagikan
Sumber: babel.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks