PANGKALPINANG — Pemerintah Kota Pangkalpinang mencatat jumlah penduduk miskin bertambah 1.120 jiwa dalam setahun terakhir. Berdasarkan laporan keuangan daerah tahun 2025, penduduk miskin kini mencapai 9.990 jiwa, naik dari 8.870 jiwa pada 2024. Garis kemiskinan ikut merangkak naik menjadi Rp956.990 per kapita per bulan, dari sebelumnya Rp925.522.
Kenaikan ini berbanding terbalik dengan sektor ketenagakerjaan yang menunjukkan perbaikan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun dari 5,98 persen menjadi 5,76 persen pada 2025. Jumlah penduduk yang bekerja mencapai 107.208 orang dari total angkatan kerja sebanyak 113.760 orang.
Mengapa Angka Kemiskinan Naik Saat Pengangguran Turun?
Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan biaya hidup masih menjadi beban utama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Meski lebih banyak warga yang bekerja, pendapatan yang diperoleh belum cukup mengimbangi kenaikan kebutuhan pokok yang tercermin dari garis kemiskinan yang terus meningkat.
Kepala daerah setempat dinilai perlu memperkuat kebijakan pengentasan kemiskinan melalui peningkatan pendapatan masyarakat dan perluasan kesempatan kerja. Sektor UMKM dan program perlindungan sosial seperti bansos menjadi instrumen yang harus diperkuat agar manfaat pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan lebih merata.
Penduduk Pangkalpinang Tembus 233.466 Jiwa
Dalam satu dekade terakhir, jumlah penduduk Kota Pangkalpinang terus bertambah. Hingga 2025, tercatat 233.466 jiwa, naik 34.429 jiwa dibandingkan 2016 yang sebanyak 199.037 jiwa. Komposisi penduduk didominasi laki-laki sebanyak 118.226 jiwa, sementara perempuan 115.240 jiwa.
Pertumbuhan penduduk ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemkot. Bertambahnya jumlah warga harus diimbangi dengan penyediaan lapangan kerja, perumahan, layanan kesehatan, pendidikan, hingga infrastruktur agar kualitas pelayanan publik tetap terjaga.
TPAK Meningkat, Tanda Lebih Banyak Warga Aktif Cari Kerja
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Pangkalpinang naik menjadi 66,55 persen. Dari total 170.940 penduduk usia kerja, sebanyak 113.760 orang masuk dalam angkatan kerja. Sisanya, 6.552 orang masih mencari pekerjaan. Angka ini menunjukkan bahwa meski kesempatan kerja bertambah, masih ada warga yang belum tertampung di pasar tenaga kerja formal.