Pencarian

Pengacara di Sembalun Kembangkan Ribuan Pohon Melon Pepino Jadi Agrowisata, Sempat Diremehkan

Minggu, 26 Juli 2026 • 07:43:01 WIB
Pengacara di Sembalun Kembangkan Ribuan Pohon Melon Pepino Jadi Agrowisata, Sempat Diremehkan

LOMBOK TIMUR — Hosyatillah, pengacara asal Sembalun, tak menyangka buah yang sempat diragukan banyak orang kini menjadi daya tarik wisata. Kebun melon pepinonya di kaki Gunung Rinjani ramai dikunjungi wisatawan yang rela antre untuk memetik langsung. Bahkan, saat permintaan melonjak, ia menutup kebun karena stok buah matang tidak mencukupi.

Dari Empat Pohon Kiriman yang Selamat

Perjalanan Hosyatillah memulai agrowisata ini tidak mulus. Awalnya, ia memesan 15 bibit melon pepino secara daring dari Sumatera Barat. Namun, hanya empat pohon yang selamat sampai di Lombok. Kegagalan juga pernah ia alami saat mencoba perbanyakan dari biji, yang tingkat keberhasilannya sangat kecil.

"Akhirnya saya membeli pohonnya langsung dan ternyata berhasil dikembangkan," katanya kepada NTBSatu, Sabtu (25 Juli 2026). Empat pohon itu kemudian diperbanyak melalui stek batang hingga kini menghasilkan belasan ribu pohon.

Keraguan Warga yang Berubah Jadi Rasa Penasaran

Ketika Hosyatillah mulai menanam pepino, banyak warga yang mempertanyakan pilihannya. "Bahkan ada yang meremehkan. Mereka bilang siapa yang mau beli, pasarnya di mana," ujarnya. Ia memilih mengembangkan tanaman itu secara tertutup hingga buahnya matang dan bisa dicicipi.

Setelah pengunjung pertama datang dan merasakan keunikan rasanya—perpaduan melon, blewah, dan mentimun—minat pun melonjak. "Yang membuat pepino spesial itu rasanya. Ada rasa melon, timun, dan blewah dalam satu buah. Segar sekali," jelas Hosyatillah.

Wisata Petik dengan Tiket Rp50 Ribu per Kilogram

Kebun pepino milik Hosyatillah tidak memungut tiket masuk. Pengunjung hanya membayar hasil petikan sebesar Rp50 ribu per kilogram. Kebijakan itu justru membuat kunjungan kian ramai. Saat musim hujan, ia bahkan menutup kebun karena jumlah buah matang tidak sebanding dengan jumlah pengunjung. "Saya masih hati-hati mempromosikannya supaya pengunjung tidak kecewa," katanya.

Satu pohon pepino bisa berbuah terus selama dirawat dengan baik, dengan umur produktif hingga dua tahun. Panen pertama dimulai sekitar tiga setengah bulan setelah tanam.

Tantangan Cuaca dan Minim Dukungan Pemerintah

Meski perawatan relatif mudah di dataran tinggi Sembalun, cuaca ekstrem menjadi tantangan. Angin kencang pernah merobohkan satu petak kebun saat puncak panen. "Waktu itu lebih dari dua ton buah rusak karena badai," ungkap Hosyatillah. Dari situ ia belajar memperkuat penyangga dan menyesuaikan pola tanam.

Keberhasilan Hosyatillah mulai diikuti petani lain di Sembalun yang melihat peluang pasar dari sektor pariwisata. Namun, ia mengaku belum pernah mendapat dukungan langsung dari pemerintah. "Kalau pemerintah ingin mendukung pengembangannya tentu kami sangat terbuka. Harapan saya sederhana, semoga melon pepino menjadi salah satu daya tarik baru di Sembalun dan bisa menambah penghasilan masyarakat," pungkasnya.

Bagikan
Sumber: ntbsatu.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks