KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Lahir pada 23 November 2008, Veda tercatat sebagai peserta termuda di grid Moto3 musim ini. Mayoritas rivalnya sudah berusia kepala dua. Sementara rookie seangkatannya seperti Brian Uriarte atau Hakim Danish setidaknya sudah merasakan sensasi menggeber motor Moto3 pada musim balap 2025.
Ketertinggalan pengalaman itu tidak membuat Veda berkecil hati. Justru sejak seri pembuka, namanya langsung menjadi perbincangan setelah mampu menembus barisan terdepan.
Konsisten di Zona Poin, Hanya Tiga Kali Gagal
Dari 12 balapan yang berlangsung, Veda hanya tiga kali pulang tanpa poin. Rinciannya, dua kali gagal finis dan sekali harus puas di posisi ke-16. Di luar itu, pembalap berusia 17 tahun tersebut selalu berhasil menambang angka.
Puncak performanya terjadi di dua seri berbeda. Veda naik podium ketiga di Moto3 Brasil dan mengulang pencapaian serupa di Moto3 Prancis. Hasil tersebut membuktikan dirinya mampu bersaing dengan para pembalap yang jauh lebih berpengalaman.
Posisi Veda di Klasemen dan Ambisi ke Depan
Konsistensi tersebut mengantarkannya bertengger di peringkat keenam klasemen sementara. Lebih impresif lagi, Veda menjadi pembalap Honda dengan posisi terbaik, mengungguli rekan-rekan satu pabrikan yang notabene lebih senior.
Dengan lebih dari separuh musim yang sudah dijalani, torehan 97 poin ini menegaskan bahwa talenta muda Indonesia itu bukan sekadar pelengkap grid. Veda telah membuktikan bahwa keberanian dan kemampuan teknis bisa menutup kesenjangan usia dan jam terbang.
Musim debutnya di ajang grand prix kini dinanti kelanjutannya. Pertanyaannya bukan lagi apakah Veda mampu bersaing, melainkan seberapa tinggi ia bisa melesat di sisa seri Moto3 2026.